Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan tahun 2024 untuk Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, menunjukkan persentase penduduk miskin naik sedikit dari 38,66% pada 2023 menjadi 39,01% pada 2024, dengan pertumbuhan 0,91%. Jumlah penduduk miskin mencapai 30.850 orang, dari total penduduk 92.399 jiwa yang bertambah sedikit sebesar 544 orang dibanding tahun sebelumnya.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Kecantikan Kota Makassar | 2024)
Dibandingkan kabupaten tetangga di Papua Tengah, Kabupaten Deiyai berada pada peringkat kedua se-Indonesia untuk persentase kemiskinan, hanya kalah dari Kabupaten Intan Jaya yang memiliki angka 41,42%. Kabupaten lain di sekitarnya seperti Paniai (37,07%), Puncak Jaya (35,94%), dan Puncak (37,49%) memiliki persentase kemiskinan yang lebih rendah dari Deiyai.
Dari data historis kemiskinan periode 2010-2024, persentase kemiskinan tertinggi di Kabupaten Deiyai terjadi pada 2010 sebesar 49,58%, sedangkan terendah pada 2023 sebesar 38,66%. Pertumbuhan angka kemiskinan terendah terjadi pada 2014 turun 6,38%, dan tertinggi pada 2013 sebesar 3,46%. Rata-rata persentase kemiskinan 3 tahun terakhir (2022-2024) adalah 39,33%, sedangkan rata-rata 5 tahun terakhir (2020-2024) adalah 40,06%, sehingga angka 2024 lebih rendah dari rata-rata 5 tahun namun sedikit lebih tinggi dari rata-rata 3 tahun. Peringkat se-Indonesia Deiyai selalu berada di posisi 1 atau 2 sejak 2010, bergeser ke posisi 2 pada 2021 dan tetap di sana hingga 2024.
Kabupaten Intan Jaya
Berada pada peringkat pertama se-Indonesia untuk persentase kemiskinan dengan angka 41,42%, mengalami pertumbuhan 5,15% pada jumlah penduduk miskin yang mencapai 22.250 orang dari total penduduk 137.339 jiwa. Garis kemiskinan di wilayah ini sebesar Rp948,84 ribu per kapita per bulan, sedangkan pendapatan per kapita masyarakat sebesar Rp10,19 juta per tahun. Pertumbuhan garis kemiskinan yang tinggi sebesar 11,22% menunjukkan bahwa biaya hidup di wilayah ini meningkat lebih cepat dibanding kabupaten lain di sekitarnya, sementara pertumbuhan penduduk yang rendah (0,43%) tidak mampu menekan angka kemiskinan yang tinggi.
Kabupaten Paniai
(Baca: PDRB Konsumsi Pemerintah Periode 2013-2024)
Berada pada peringkat kelima se-Indonesia untuk persentase kemiskinan (37,07%), jumlah penduduk miskin di wilayah ini mencapai 64.340 orang, yang merupakan jumlah tertinggi di antara kabupaten tetangga Deiyai dari total penduduk 124.835 jiwa. Pendapatan per kapita masyarakat sebesar Rp22,57 juta per tahun, yang lebih tinggi dibanding kabupaten lain di sekitarnya, dengan garis kemiskinan sebesar Rp711,08 ribu per kapita per bulan. Pertumbuhan jumlah penduduk miskin sebesar 5,23% adalah tertinggi di antara kabupaten tetangga, menunjukkan bahwa meskipun pendapatan per kapita cukup tinggi, distribusi pendapatan masih tidak merata sehingga jumlah penduduk miskin terus meningkat.
Kabupaten Puncak Jaya
Dengan peringkat ketujuh se-Indonesia untuk persentase kemiskinan (35,94%), jumlah penduduk miskin di wilayah ini mencapai 48.780 orang dari total penduduk 219.995 jiwa, yang merupakan jumlah penduduk tertinggi di antara kabupaten tetangga Deiyai. Garis kemiskinan sebesar Rp879,63 ribu per kapita per bulan dengan pertumbuhan 6,87%, sedangkan pendapatan per kapita masyarakat sebesar Rp7,08 juta per tahun, yang merupakan terendah di antara kabupaten tetangga. Pertumbuhan jumlah penduduk miskin sebesar 2,69% lebih rendah dibanding kabupaten lain di sekitarnya, namun pendapatan per kapita yang rendah membuat angka kemiskinan tetap berada pada level yang tinggi.
Kabupaten Puncak
Berada pada peringkat keempat se-Indonesia untuk persentase kemiskinan (37,49%), jumlah penduduk miskin di wilayah ini mencapai 43.730 orang dari total penduduk 177.617 jiwa. Garis kemiskinan sebesar Rp888,67 ribu per kapita per bulan dengan pertumbuhan 6,19%, sedangkan pendapatan per kapita masyarakat sebesar Rp14,46 juta per tahun. Pertumbuhan jumlah penduduk miskin sebesar 4,09% menunjukkan bahwa kondisi kemiskinan di wilayah ini terus meningkat, meskipun pertumbuhan garis kemiskinan lebih rendah dibanding Kabupaten Intan Jaya. Jumlah penduduk yang cukup besar namun pendapatan per kapita yang tidak terlalu tinggi membuat angka kemiskinan tetap berada pada level yang tinggi dibanding rata-rata nasional.