Menurut data Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), sepanjang 2025 ada 2.382 laporan kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO) di Indonesia, melonjak sekitar 25% dibanding 2024.
Jenis KBGO yang paling banyak dilaporkan adalah ancaman penyebaran konten intim, diikuti pemerasan seksual, dan non-consensual intimate image (NCII).
Berikut rincian jumlah kasus KBGO di Indonesia berdasarkan jenis sepanjang 2025:
- Ancaman penyebaran konten intim: 1.150 kasus
- Pemerasan seksual daring: 592 kasus
- NCII: 280 kasus
- Doxing berbasis gender: 78 kasus
- Penyebaran konten intim buatan tanpa izin: 66 kasus
- Flaming: 54 kasus
- Peniruan akun berbasis gender: 46 kasus
- Lainnya: 116 kasus
Menurut SAFEnet, sepanjang 2025, kasus KBGO paling banyak dialami oleh perempuan dengan 1.531 kasus, terutama pada kelompok usia 18-25 tahun sebanyak 1.372 kasus.
"Insiden KBGO paling banyak terjadi di WhatsApp dengan 1.456 kasus, disusul Telegram (709 kasus), Instagram (354 kasus), X (197 kasus), dan TikTok (170 kasus)," kata SAFEnet dalam laporannya.
Aduan kasus KBGO yang dicatat SAFEnet terbanyak dari Provinsi Jawa Barat dengan 504 kasus, disusul Provinsi DKI Jakarta (292 kasus), Jawa Timur (288 kasus), dan Jawa Tengah (287 kasus).
"Di luar Pulau Jawa, kasus juga tercatat di Sumatera Utara (65 kasus), Sulawesi Selatan (21 kasus), dan Papua (6 kasus), yang menunjukkan bahwa KBGO merupakan persoalan nasional dan memerlukan perhatian lintas wilayah," kata SAFEnet.
(Baca: Laporan Kekerasan Gender Online ke Komnas Perempuan Meningkat pada 2024)