Laporan Global Peace Index 2025 dari Institute for Economics and Peace (IEP) mengungkap, terdapat 10 negara dengan tanggungan biaya ekonomi tertinggi akibat konflik atau kekerasan pada 2024.
Tim riset menjelaskan, biaya ekonomi akibat kekerasan di negara-negara yang paling terdampak berkisar antara 16,8%-41,6% dari produk domestik bruto (PDB) mereka.
"Negara-negara ini cenderung memiliki kombinasi tingkat konflik bersenjata yang tinggi, jumlah pengungsi internal yang besar, tingkat kekerasan interpersonal yang tinggi, serta angkatan militer yang besar," tulis IEP dalam laporannya.
Negara dengan biaya kekerasan tertinggi adalah Afghanistan dan Ukraina dengan proporsi masing-masing PDB hingga 41,56% dan 40,92%.
"Tingginya biaya di Afghanistan disebabkan oleh belanja militer yang tinggi relatif terhadap PDB, biaya keamanan internal yang tinggi, serta biaya terkait pengungsi dan pengungsi internal (IDP) yang besar," kata IEP.
Serangan yang intensif memang menelan "ongkos" yang lebih mahal, ini bisa berasal dari kematian dan cedera akibat konflik bersenjata, kerugian dari pengungsi dan IDP, serta tingkat pembunuhan yang tinggi.
Kata tim riset, negara-negara ini meliputi Ukraina, Palestina, Somalia, Burkina Faso, Kolombia, dan Republik Afrika Tengah.
Berikut 10 negara dengan biaya kekerasan tertinggi dari PDB pada 2024:
- Afghanistan: 41,56%
- Ukraina: 40,92%
- Korea Utara: 39,14%
- Suriah: 33,97%
- Somalia: 24,71%
- Republik Afrika Tengah: 22,48%
- Kolombia: 19,66%
- Palestina: 19,42%
- Burkina Faso: 18,97%
- Siprus: 16,75%
Dari 10 negara ini, rata-rata biaya ekonomi akibat kekerasan mencapai 27,75% dari PDB pada 2024.
"Sebagai perbandingan, di antara sepuluh negara paling damai di dunia, rata-rata biaya ekonomi akibat kekerasan hanya setara dengan 2,5% dari PDB," kata IEP.
(Baca: Israel dan AS Jadi Negara Paling Militeristik di Dunia pada 2025)