Menurut survei Microsoft, pemimpin bisnis di Indonesia memperkirakan tim mereka akan menjalankan tugas baru terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam 5 tahun ke depan.
Mayoritas atau 69% responden menyatakan tugas baru itu adalah melatih agen AI.
Microsoft mendefinisikan "agen AI" sebagai sistem kecerdasan buatan yang dapat menalar, merencanakan, dan bertindak untuk menyelesaikan tugas secara mandiri, dengan pengawasan dari manusia pada momen-momen penting.
Kemudian 63% pemimpin bisnis di Indonesia berencana membangun sistem multi-agen AI, yakni gabungan dari beberapa agen AI yang mampu mengerjakan tugas-tugas kompleks.
Ada pula 58% yang berencana mengelola agen AI secara langsung, dan 48% berharap menggunakan AI untuk merancang ulang alur atau proses kerja.
"Kini, perusahaan dari berbagai sektor tengah bergerak cepat menciptakan kolaborasi antara manusia dan AI, di mana agen digital bekerja berdampingan dengan manusia," kata Microsoft dalam laporan Work Trend Index 2025.
"Kolaborasi ini membuka jalan bagi terbentuknya struktur baru yang beroperasi dengan alur kerja cerdas, tim kerja yang dinakhodai oleh agen AI, serta peran baru manusia yang dikenal dengan istilah agent boss," lanjutnya.
Presiden Direktur Microsoft Indonesia Dharma Simorangkir menyatakan, perancangan alur kerja menggunakan AI dapat mendorong terobosan, meningkatkan produktivitas, dan inovasi.
"Dengan mindset dan investasi yang tepat, perusahaan di Indonesia dapat memanfaatkan kolaborasi antara manusia dan AI untuk menciptakan alur kerja yang benar-benar berbeda, yang lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih berdampak," kata Dharma Simorangkir dalam siaran pers (23/6/2025).
Microsoft melakukan survei ini secara daring pada 6 Februari-24 Maret 2025, dengan melibatkan 31 ribu responden dari 31 negara, termasuk 1.000 responden asal Indonesia.
(Baca: Manfaat Gen AI dalam Keamanan Siber yang Diharapkan Perusahaan Global)