Menurut survei ISEAS-Yusof Ishak Institute, China menjadi kekuatan politik dan strategis yang paling berpengaruh di kawasan Asia Tenggara pada 2026.
Persepsi tersebut disampaikan oleh 40% responden ASEAN, lebih tinggi 10 poin persentase dibanding Amerika Serikat (AS) yang berada di urutan kedua.
“Hal ini menegaskan China dan AS tetap menjadi dua kekuatan besar yang membentuk lingkungan strategis regional,” tulis periset dalam The State of Southeast Asia 2026 Survey Report.
Berikut persentase negara/organisasi regional yang dipersepsikan memiliki pengaruh politik dan strategis paling besar di Asia Tenggara pada 2026:
- China: 40%
- AS: 29,9%
- ASEAN: 15,3%
- Jepang: 5,5%
- Uni Eropa: 4,2%
- Australia: 1,8%
- India: 1,6%
- Korea Selatan: 1,2%
- Inggris Raya: 0,5%.
Kendati demikian, pengakuan pengaruh tersebut disertai kewaspadaan. Sebesar 66,1% responden mengaku prihatin atas meningkatnya pengaruh politik dan strategis China.
“Kekhawatiran sangat tinggi di Vietnam (88,7%), Filipina dan Thailand (keduanya sebesar 87,5%), serta Timor-Leste (80%),” jelas ISEAS-Yusof Ishak Institute.
Setali tiga uang, AS juga menimbulkan kegelisahan yang cukup besar, dengan 56,8% responden merasa khawatir akan pengaruh AS yang semakin besar di kawasan.
“Kekhawatiran terhadap pengaruh AS sangat menonjol di Thailand (88,3%), Indonesia (68,1%), Singapura (65,4%), Vietnam (62,2%), Malaysia (61,7%), dan Timor-Leste (61,5%),” ungkap periset.
ISEAS-Yusof Ishak Institute melakukan survei ini secara daring pada 5 Januari-20 Februari 2026 dengan metode mixed purposive sampling.
Respondennya berjumlah 2.008 orang yang tersebar di 11 negara Asia Tenggara, dengan kriteria usia minimal 18 tahun.
Responden berasal dari lima kategori afiliasi, di antaranya akademisi, anggota lembaga think tank, atau peneliti; perwakilan sektor swasta; perwakilan masyarakat sipil, LSM, atau media; pejabat pemerintah; dan staf organisasi regional atau internasional.
(Baca: Perubahan Iklim, Tantangan Utama Warga Asia Tenggara Awal 2026)