Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan, terdapat sejumlah ancaman yang dinilai publik dapat mempengaruhi stabilitas politik negara pada 2026 mendatang.
Sebanyak 22,5% responden menilai bahwa ekonomi akan menjadi ancaman terbesar yang menggangu stabilitas politik.
Ancaman berikutnya terkait korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) sebesar 18,6%; dinamika politik 14,1%; serta ketidakpercayaan terhadap pemerintah 14,1%.
"Linking social capital, yaitu hubungan kepercayaan antara warga dan elite atau institusi politik, tampak melemah," tulis Litbang Kompas dalam laporannya, Senin (29/12/2025).
Menurut Litbang Kompas, elite politik kerap dipersepsikan semakin jauh dari persoalan riil masyarakat dan lebih sibuk bermanuver demi kepentingan kekuasaan.
Lengkapnya, berikut sejumlah ancaman yang dinilai responden dapat berpengaruh pada stabilitas politik pada 2026:
- Ekonomi: 22,5%
- Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN): 18,6%
- Dinamika politik: 14,1%
- Ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah: 4,8%
- Keamanan dan militer: 3,5%
- Konflik horizontal: 3,3%
- Ketersediaan lapangan kerja: 1,8%
- Misinformasi dan hoaks: 1,6%
- Bencana alam: 0,5%
- Tidak ada ancaman: 1,4%
- Tidak tahu: 28,1%
Litbang Kompas juga merekam, sebanyak 52,8% responden memandang bahwa stabilitas politik negara dalam arti relasi antar-elite dalam kondisi baik atau sangat baik. Sebaliknya, 42,3% responden menilai buruk atau sangat buruk.
Survei ini melibatkan 510 responden dari 76 kota di 38 provinsi yang dipilih secara acak, sesuai proporsi penduduk di setiap provinsi.
Pengambilan data dilakukan pada 8-11 Desember 2025 melalui wawancara telepon. Toleransi kesalahan survei (margin of error) sekitar 4,24% dan tingkat kepercayaan 95%, dalam kondisi penarikan sampel acak sederhana.
(Baca: Tumpukan Masalah Utama yang Perlu Segera Dituntaskan Pemerintahan Prabowo-Gibran)