Berdasarkan Perpres Nomor 26 Tahun 2012, "logistik" adalah bagian dari rantai pasok yang menangani arus barang, arus informasi, dan arus uang melalui proses pengadaan, penyimpanan, transportasi, distribusi, dan layanan pengantaran dari titik asal sampai titik tujuan.
Menurut Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, logistik memiliki sejumlah komponen biaya, yaitu:
- Biaya transportasi: Biaya pengangkutan barang menggunakan alat transportasi.
- Biaya pergudangan: Biaya penyimpanan barang di gudang, termasuk biaya operasional fasilitas penyimpanan.
- Biaya penyimpanan persediaan: Biaya yang muncul karena barang disimpan di gudang, seperti biaya modal tertahan, bunga, pajak, asuransi, serta risiko barang rusak atau tidak laku terjual.
- Biaya administrasi: Biaya aktivitas manajerial, perencanaan, pengendalian, dan koordinasi sistem logistik.
(Baca: Rasio Biaya Logistik terhadap PDB Indonesia Menurun Periode 2005-2022)
Merujuk hasil kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), pada 2022, porsi biaya logistik secara umum mencapai 14,1% dari harga barang di pasar domestik Indonesia.
Namun, porsi biaya logistik ini bervariasi untuk setiap komoditas.
Biaya logistik paling mahal berada di komoditas jagung, yang porsinya mencapai 44% dari harga barang.
Berikut rincian porsi biaya logistik dalam harga barang di Indonesia pada 2022 berdasarkan hasil kajian Bappenas, diurutkan dari yang tertinggi:
- Jagung: 44% (dari harga barang)
- Pelumas/oli mesin: 39,7%
- Beras: 38,7%
- Ikan: 37,8%
- Minyak sawit: 34,7%
- Daging ayam: 33,5%
- Batu bara: 29,1%
- Pupuk: 25,5%
- Bahan bakar kendaraan: 17,9%
- Sepeda motor: 15,2%
- Air minum kemasan botol: 14,3%
- Semen: 8,3%
- Mobil: 5,1%
- Pakaian jadi: 2,3%
- Tiang listrik: 1,5%
- Rokok filter: 0,9%
- LPG: 0,9%
- Komponen mesin mobil: 0,9%
- Panel listrik: 0,7%
- Cat tembok: 0,7%
- Produk kesehatan/obat: 0,6%
- Ponsel: 0,1%
- Kayu: 0,04%
- Kabel listrik: 0,03%
- Emas perhiasan: 0,01%
(Baca: Rasio Biaya Logistik terhadap PDB Indonesia Menurun Periode 2005-2022)