Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai perdagangan Indonesia dan Jepang pada 2025 tercatat sebesar US$32,07 miliar atau sekitar Rp545,19 triliun (asumsi Rp16.995 per US$).
Angka ini menurun 10,14% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy), sekaligus menjadi rekor terendah dalam lima tahun terakhir.
Sepanjang periode 2021–2025, nilai perdagangan tertinggi tercatat pada 2022 dengan total mencapai US$42,02 miliar. Setelah itu nilainya cenderung menurun, seperti terlihat pada grafik.
Berikut rincian nilai perdagangan Indonesia dan Jepang periode 2021-2025:
2021
- Ekspor: US$17,87 miliar
- Impor: US$14,64 miliar
- Total perdagangan: US$32,52 miliar
2022
- Ekspor: US$24,85 miliar
- Impor: US$17,17 miliar
- Total perdagangan: US$42,02 miliar
2023
- Ekspor: US$20,78 miliar
- Impor: US$16,54 miliar
- Total perdagangan: US$37,33 miliar
2024
- Ekspor: US$20,72 miliar
- Impor: US$14,98 miliar
- Total perdagangan: US$35,70 miliar
2025
- Ekspor: US$17,61 miliar
- Impor: US$14,46 miliar
- Total perdagangan: US$32,08 miliar
Kemitraan Indonesia dan Jepang
Indonesia dan Jepang baru saja menandatangani 10 Nota Kesepahaman (MoU) dengan total nilai kerja sama sekitar US$23,1 miliar dalam Forum Bisnis Indonesia–Jepang yang digelar di Imperial Hotel Tokyo, Senin (30/3/2026).
Kesepakatan tersebut merupakan salah satu hasil dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto serta sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju ke Jepang.
Prabowo menilai investasi Jepang memiliki kualitas tinggi karena dikenal disiplin, memiliki penguasaan teknologi, serta berkomitmen dalam jangka panjang terhadap pengembangan industri.
“Jepang membawa kualitas dalam investasi, disiplin, teknologi, dan komitmen jangka panjang. Itulah sebabnya investasi Jepang dihormati, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia dan secara pribadi saya sangat menghargai hubungan ini," kata Presiden Prabowo, dilansir dari rilis Kemenko Bidang Perekonomian, Selasa (31/3/2026).
(Baca: Neraca Perdagangan Migas Indonesia Selalu Defisit Sejak Maret 2015)