- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa jumlah sekolah SMA di Provinsi Jawa Timur mengalami tren penurunan bertahap dari tahun 2018 hingga 2024. Pada 2018, jumlahnya mencapai 1.539 unit, kemudian turun bertahap menjadi 1.516 unit di 2024. Dibanding tahun sebelumnya (2023), jumlah sekolah SMA turun 1 unit. Selama periode tersebut, Jawa Timur tetap berada di peringkat nasional kedua untuk jumlah sekolah SMA.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Brebes Periode 2004 - 2024)
Dari total 1.516 sekolah SMA di Jawa Timur tahun 2024, sebagian besar adalah sekolah swasta dengan jumlah 1.095 unit, atau sekitar 72,3% dari total. Jumlah ini mengalami kenaikan kecil sebesar 0,1% dibanding tahun 2023 yang mencapai 1.094 unit. Sebaliknya, jumlah sekolah SMA negeri turun 0,5% dari 423 unit di 2023 menjadi 421 unit di 2024.
Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat bahwa jumlah penduduk usia sekolah SMA (16-18 tahun) di Jawa Timur mengalami tren penurunan dari tahun 2018 hingga 2023, dari 1.839.400 jiwa menjadi 1.779.310 jiwa. Meskipun data tahun 2024 belum tersedia, selama periode 2018-2023, Jawa Timur tetap berada di peringkat nasional kedua untuk jumlah penduduk usia ini. Tren penurunan kedua indikator ini menunjukkan keseimbangan yang perlu diperhatikan dalam memenuhi kebutuhan pendidikan SMA di provinsi ini.
(Baca: Keadaan Angkatan Kerja di Kota Palangkaraya pada 2024)
Dari data pendukung BPS, jumlah guru SMA di Jawa Timur tahun 2024 mencapai 34.987 orang, naik 0,5% dibanding tahun 2023. Perlu diperhatikan bahwa jumlah kepala sekolah dan guru SMA negeri naik 6,9% menjadi 21.353 orang, sedangkan yang di SMA swasta turun 8,1% menjadi 13.634 orang. Angka Partisipasi Murni (APM) SMA juga meningkat 3,5% dari 62 di 2023 menjadi 64 di 2024, menunjukkan peningkatan minat siswa melanjutkan pendidikan ke SMA.
Jumlah siswa SMA di Jawa Timur tahun 2024 juga naik 1,9% menjadi 559.314 orang dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah siswa meskipun jumlah sekolah sedikit menurun menunjukkan bahwa kapasitas setiap sekolah mungkin telah dimanfaatkan lebih optimal, didukung juga oleh peningkatan jumlah guru dan APM yang positif.