Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran untuk aneka barang dan jasa di Kabupaten Halmahera Utara pada tahun 2024 mencapai 283.505 rupiah per kapita per bulan. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 11,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 254.193 rupiah per kapita per bulan. Selisih pengeluaran dengan tahun sebelumnya mencapai 29.312 rupiah per kapita per bulan. Data ini menunjukkan bahwa masyarakat Kabupaten Halmahera Utara masih memiliki daya beli untuk barang dan jasa non-makanan seperti kecantikan, perawatan, dan rokok.
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan di Kalimantan Selatan 2015 - 2024)
Dari tahun 2018 hingga 2024, pengeluaran untuk aneka barang dan jasa di Kabupaten Halmahera Utara menunjukkan fluktuasi yang jelas. Pada tahun 2018, nilai pengeluaran sebesar 162.287 rupiah per kapita per bulan, lalu sedikit turun menjadi 152.778 rupiah pada tahun 2019. Tahun 2020 mengalami kenaikan menjadi 166.269 rupiah, sebelum mengalami lonjakan signifikan menjadi 239.321 rupiah pada tahun 2021. Tahun 2022, pengeluaran sedikit turun menjadi 200.998 rupiah, kemudian naik kembali menjadi 254.193 rupiah pada tahun 2023 dan mencapai pengeluaran tertinggi pada tahun 2024.
Data pendukung menunjukkan bahwa komponen utama pengeluaran aneka barang dan jasa di Kabupaten Halmahera Utara pada tahun 2024 termasuk rokok dan tembakau sebesar 111.058 rupiah per kapita per bulan, makanan jadi sebesar 118.733 rupiah per kapita per bulan, dan perawatan sebesar 73.311 rupiah per kapita per bulan. Nilai ini menunjukkan bahwa konsumsi barang harian dan produk tembakau masih menjadi prioritas masyarakat di wilayah ini dibandingkan barang lain seperti sabun mandi (72.385 rupiah) dan kecantikan (34.675 rupiah).
Berdasarkan data perbandingan dari BPS, Kabupaten Halmahera Utara menempati peringkat ke-4 di antara 10 kabupaten/kota di Provinsi Maluku Utara untuk pengeluaran aneka barang dan jasa pada tahun 2024. Wilayah yang berada di peringkat lebih tinggi adalah Kota Ternate (peringkat 1), Kabupaten Halmahera Timur (peringkat 2), dan Kabupaten Halmahera Tengah (peringkat 3). Di tingkat nasional, Kabupaten Halmahera Utara berada di peringkat ke-156 dari seluruh kabupaten/kota di Indonesia.
Dibandingkan lima tahun terakhir (2019-2023), pengeluaran aneka barang dan jasa di Kabupaten Halmahera Utara mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 13,2 persen per tahun. Rata-rata pengeluaran selama tiga tahun terakhir (2022-2024) sebesar 246.232 rupiah per kapita per bulan, yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir (2019-2023) sebesar 202.662 rupiah per kapita per bulan. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat untuk aneka barang dan jasa mengalami peningkatan secara bertahap selama beberapa tahun terakhir.
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Perawatan Kulit di Kab. Karawang 2018 - 2024)
Kota Ternate
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan di Kota Ternate pada tahun 2024 sebesar 2.197.393 rupiah, yang mengalami kenaikan sebesar 16,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata pengeluaran untuk makanan sebesar 939.634 rupiah per kapita per bulan, sedangkan untuk bukan makanan sebesar 1.257.759 rupiah per kapita per bulan. Kota Ternate menempati peringkat ke-1 di Provinsi Maluku Utara untuk kedua indikator pengeluaran makanan dan bukan makanan, menunjukkan bahwa daya beli masyarakat di wilayah ini jauh lebih tinggi dibandingkan kabupaten/kota lain di provinsi yang sama. Pertumbuhan pengeluaran bukan makanan di Kota Ternate sebesar 46,4 persen, yang merupakan pertumbuhan tertinggi di antara seluruh kabupaten/kota di Maluku Utara pada tahun 2024.
Kabupaten Halmahera Tengah
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan di Kabupaten Halmahera Tengah pada tahun 2024 sebesar 2.057.205 rupiah, yang hanya mengalami kenaikan sedikit sebesar 0,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata pengeluaran untuk makanan sebesar 939.081 rupiah per kapita per bulan, sedangkan untuk bukan makanan sebesar 1.118.124 rupiah per kapita per bulan. Kabupaten Halmahera Tengah menempati peringkat ke-2 di Provinsi Maluku Utara untuk pengeluaran makanan dan bukan makanan, hanya berada di bawah Kota Ternate. Pertumbuhan pengeluaran bukan makanan di wilayah ini sebesar 82,8 persen, yang merupakan pertumbuhan tertinggi kedua di provinsi setelah Kota Ternate, menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam konsumsi barang dan jasa non-makanan pada tahun 2024.
Kabupaten Halmahera Timur
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan di Kabupaten Halmahera Timur pada tahun 2024 sebesar 1.558.307 rupiah, yang mengalami kenaikan sebesar 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata pengeluaran untuk makanan sebesar 804.535 rupiah per kapita per bulan, sedangkan untuk bukan makanan sebesar 753.772 rupiah per kapita per bulan. Kabupaten Halmahera Timur menempati peringkat ke-3 di Provinsi Maluku Utara untuk pengeluaran makanan dan bukan makanan, dengan pertumbuhan pengeluaran bukan makanan sebesar 50,3 persen. Nilai ini menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah ini memiliki daya beli yang cukup tinggi untuk barang dan jasa non-makanan, meskipun masih berada di bawah Kota Ternate dan Kabupaten Halmahera Tengah.
Kota Tidore Kepulauan
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan di Kota Tidore Kepulauan pada tahun 2024 sebesar 1.454.975 rupiah, yang mengalami penurunan sebesar 16,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata pengeluaran untuk makanan sebesar 751.095 rupiah per kapita per bulan, sedangkan untuk bukan makanan sebesar 703.880 rupiah per kapita per bulan. Kota Tidore Kepulauan menempati peringkat ke-4 di Provinsi Maluku Utara untuk pengeluaran makanan dan bukan makanan, dengan pertumbuhan pengeluaran bukan makanan sebesar 22,6 persen. Meskipun pengeluaran total mengalami penurunan, pengeluaran bukan makanan masih menunjukkan kenaikan, yang menunjukkan bahwa masyarakat masih mengalokasikan dana untuk barang dan jasa non-makanan meskipun pengeluaran total turun.