Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran untuk aneka barang dan jasa per kapita sebulan di Kabupaten Nias Selatan pada tahun 2024 mencapai 159.536 rupiah. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 18,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 134.913 rupiah. Selisih pengeluaran dengan tahun sebelumnya mencapai 24.622 rupiah, sementara dua tahun sebelumnya pengeluaran tersebut sebesar 148.590 rupiah. Pengeluaran ini mencakup berbagai kategori seperti kecantikan, makanan jadi, perawatan, rokok dan tembakau, serta sabun mandi dengan rata-rata masing-masing sebesar 14.348 rupiah, 75.423 rupiah, 41.894 rupiah, 72.095 rupiah, dan 51.337 rupiah per kapita sebulan.
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan di Nusa Tenggara Barat 2015 - 2024)
Data historis dari tahun 2018 hingga 2024 menunjukkan fluktuasi yang jelas pada pengeluaran ini. Tahun 2019 mengalami kenaikan paling tinggi sebesar 38 persen dari tahun 2018, namun tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 34,9 persen yang menjadi anomali dalam periode tersebut. Tahun 2021 hingga 2022 melihat kenaikan kecil sebesar 20,4 persen dan 3,1 persen, sebelum mengalami penurunan sebesar 9,2 persen pada tahun 2023. Pengeluaran tertinggi sebelum tahun 2024 terjadi pada tahun 2019 sebesar 183.892 rupiah, sedangkan pengeluaran terendah terjadi pada tahun 2020 sebesar 119.706 rupiah.
Dari perbandingan dengan wilayah lain di Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Nias Selatan menempati peringkat ke-30 dari 33 kabupaten/kota. Wilayah dengan pengeluaran tertinggi untuk aneka barang dan jasa pada tahun 2024 adalah Kota Medan dengan 456.069 rupiah, diikuti oleh Kota Binjai (411.545 rupiah), Kota Tebing Tinggi (405.394 rupiah), Kota Pematang Siantar (342.762 rupiah), dan Kabupaten Toba Samosir (309.420 rupiah). Beberapa wilayah di provinsi ini mengalami perkembangan yang beragam, seperti Kota Binjai yang mengalami kenaikan sebesar 42,4 persen, sedangkan Kota Medan mengalami penurunan sebesar 27,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir (2021-2023), pengeluaran tahun 2024 lebih tinggi sebesar sekitar 8.000 rupiah per kapita sebulan. Rata-rata pengeluaran selama lima tahun terakhir (2019-2023) sebesar 146.241 rupiah, sehingga tahun 2024 menunjukkan kenaikan sebesar 13.295 rupiah dari rata-rata tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengeluaran masyarakat Kabupaten Nias Selatan untuk aneka barang dan jasa pada tahun 2024 lebih baik dibandingkan rata-rata periode sebelumnya.
Kota Medan
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan di Kota Medan pada tahun 2024 mencapai 1.950.826 rupiah, yang menunjukkan penurunan sebesar 12,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata pengeluaran untuk makanan saja sebesar 872.365 rupiah dengan kenaikan sebesar 8,6 persen, sedangkan pengeluaran untuk bukan makanan sebesar 1.078.461 rupiah dengan kenaikan sebesar 2,9 persen. Kota Medan menempati peringkat ke-1 di Provinsi Sumatera Utara untuk kedua kategori pengeluaran ini, menunjukkan bahwa masyarakat di kota ini memiliki tingkat konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lain di provinsi. Meskipun pengeluaran total menurun, pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan masing-masing masih menunjukkan kenaikan kecil, yang menunjukkan bahwa masyarakat tetap memprioritaskan kebutuhan dasar dan tambahan meskipun ada penurunan total.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Perawatan Kulit Kota Palu | 2024)
Kabupaten Karo
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan di Kabupaten Karo pada tahun 2024 mencapai 1.563.884 rupiah, yang menunjukkan penurunan sebesar 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata pengeluaran untuk makanan saja sebesar 1.035.928 rupiah dengan kenaikan sebesar 19,5 persen, sedangkan pengeluaran untuk bukan makanan sebesar 527.956 rupiah dengan kenaikan sebesar 14,5 persen. Kabupaten Karo menempati peringkat ke-4 untuk pengeluaran total, peringkat ke-1 untuk pengeluaran makanan, dan peringkat ke-13 untuk pengeluaran bukan makanan di Provinsi Sumatera Utara. Kenaikan yang signifikan pada pengeluaran makanan menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah ini lebih banyak mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan makanan, mungkin karena peningkatan harga atau perubahan pola konsumsi.
Kabupaten Nias Barat
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan di Kabupaten Nias Barat pada tahun 2024 mencapai 747.818 rupiah, yang menunjukkan penurunan sebesar 2,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata pengeluaran untuk makanan saja sebesar 434.311 rupiah dengan kenaikan sebesar 18,7 persen, sedangkan pengeluaran untuk bukan makanan sebesar 313.507 rupiah dengan kenaikan sebesar 25,1 persen. Kabupaten Nias Barat menempati peringkat ke-33 untuk pengeluaran total, peringkat ke-33 untuk pengeluaran makanan, dan peringkat ke-31 untuk pengeluaran bukan makanan di Provinsi Sumatera Utara. Meskipun peringkatnya rendah, kedua kategori pengeluaran menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan, yang menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah ini mengalami peningkatan daya beli untuk kebutuhan makanan dan bukan makanan meskipun total pengeluaran sedikit menurun.
Kabupaten Tapanuli Selatan
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan di Kabupaten Tapanuli Selatan pada tahun 2024 mencapai 1.018.714 rupiah, yang menunjukkan penurunan sebesar 14,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata pengeluaran untuk makanan saja sebesar 629.417 rupiah dengan kenaikan sebesar 6,9 persen, sedangkan pengeluaran untuk bukan makanan sebesar 389.296 rupiah dengan penurunan sebesar 1,8 persen. Kabupaten Tapanuli Selatan menempati peringkat ke-27 untuk pengeluaran total, peringkat ke-27 untuk pengeluaran makanan, dan peringkat ke-28 untuk pengeluaran bukan makanan di Provinsi Sumatera Utara. Peningkatan pengeluaran makanan meskipun total pengeluaran menurun menunjukkan bahwa masyarakat memprioritaskan kebutuhan dasar, sedangkan pengeluaran untuk bukan makanan sedikit menurun karena kemungkinan pembatasan anggaran untuk kebutuhan tambahan.