Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran per kapita bulanan masyarakat Kota Sawahlunto untuk rokok dan tembakau pada tahun 2025 mencapai 136466 rupiah. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 9,1 persen dibandingkan tahun 2024. Sepanjang periode 2018 hingga 2025, tercatat pengeluaran tertinggi untuk kategori ini terjadi pada tahun 2023 dengan nilai 155033 rupiah per kapita per bulan.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan Besar untuk Rokok dan Tembakau Kab. Demak | 2025)
Berdasarkan perhitungan, pengeluaran rokok dan tembakau masyarakat Kota Sawahlunto menyumbang 48 persen dari total pengeluaran aneka barang jasa per kapita. Nilai ini bahkan lebih tinggi dibandingkan pengeluaran bulanan untuk kecantikan, perawatan pribadi, serta mendekati nilai pengeluaran untuk sabun mandi per kapita setiap bulannya. Pengeluaran untuk rokok dan tembakau juga setara dengan 64,5 persen dari pengeluaran masyarakat untuk makanan jadi setiap bulan.
Sepanjang delapan tahun data tercatat, pengeluaran rokok dan tembakau di kota ini mengalami pergerakan naik turun. Setelah naik 5,1 persen pada tahun 2019, terjadi penurunan sedikit pada tahun 2020, kemudian naik sedikit pada tahun 2021. Kenaikan paling besar terjadi pada tahun 2022 sebesar 17,9 persen, sebelum kemudian kembali mengalami penurunan dua tahun berturut-turut pada tahun 2024 dan 2025.
Untuk posisi perbandingan se-provinsi Sumatera Barat, Kota Sawahlunto menempati urutan ke 13 dari total 19 kabupaten dan kota yang tercatat. Secara nasional, kota ini menempati urutan ke 212 dari seluruh kabupaten kota di Indonesia, sedangkan untuk lingkup pulau Sumatera menempati urutan ke 88. Nilai pengeluaran tahun 2025 Kota Sawahlunto berada sedikit di bawah Kota Padang dan sedikit di atas Kabupaten Padang Pariaman.
Informasi ini seperti data yang diolah dari data Susenas menunjukkan terdapat variasi pertumbuhan pengeluaran rokok dan tembakau antar wilayah di Sumatera Barat. Kabupaten Sawahlunto Sijunjung mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 25,8 persen pada tahun 2025, disusul Kabupaten Lima Puluh Kota dengan pertumbuhan 15,2 persen. Sementara itu Kota Padang Panjang mengalami penurunan paling dalam sebesar 52,2 persen untuk kategori pengeluaran yang sama.
Pengeluaran Total Masyarakat Sumatera Barat
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Perawatan Kulit Kab. Serang | 2025)
Badan Pusat Statistik juga mencatat perkembangan pengeluaran total per kapita masyarakat seluruh kabupaten kota di Sumatera Barat. Kota Padang konsisten menempati urutan pertama dengan total pengeluaran per kapita bulanan mencapai 2313261 rupiah pada tahun 2025, mengalami kenaikan sebesar 5,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Urutan kedua ditempati Kota Solok dengan nilai pengeluaran total 2067484 rupiah, mengalami kenaikan 15,5 persen yang merupakan kenaikan tertinggi dibandingkan wilayah lain di provinsi ini.
Pengeluaran Kategori Makanan
Untuk kategori pengeluaran makanan, Kota Padang kembali menempati urutan teratas dengan nilai 1009974 rupiah per kapita setiap bulan. Kota Bukit Tinggi berada di urutan kedua dengan nilai 991590 rupiah, hanya terpaut sekitar 18 ribu rupiah dari posisi teratas. Sementara itu Kabupaten Pasaman berada di urutan paling bawah dengan pengeluaran makanan per kapita sebesar 715346 rupiah setiap bulannya.
Pengeluaran Kategori Bukan Makanan
Pengeluaran bukan makanan menjadi kategori dengan fluktuasi paling besar di seluruh wilayah Sumatera Barat. Kota Padang tetap menduduki peringkat pertama dengan nilai 1303286 rupiah per kapita per bulan, mengalami kenaikan 9,3 persen. Secara umum, seluruh wilayah kota di Sumatera Barat memiliki nilai pengeluaran bukan makanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan seluruh wilayah kabupaten di provinsi yang sama.
Perbandingan Pertumbuhan Antar Wilayah
Terdapat perbedaan pola pertumbuhan pengeluaran yang sangat jelas antara wilayah kota dan kabupaten. Seluruh wilayah kota rata-rata mengalami pertumbuhan pengeluaran total di atas 5 persen, kecuali Kota Padang Panjang yang mengalami penurunan sebesar 25,4 persen. Sementara itu sebagian besar wilayah kabupaten hanya mengalami pertumbuhan pengeluaran di bawah 5 persen, bahkan terdapat beberapa wilayah yang mengalami penurunan nilai pengeluaran total pada tahun 2025.