Pengeluaran untuk rokok dan tembakau di Kabupaten Kepulauan Aru menunjukkan angka Rp72.585 per kapita per bulan pada 2024.
Angka ini mengalami penurunan sebesar 27,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pengeluaran tertinggi untuk rokok dan tembakau di kabupaten ini terjadi pada 2023, yakni mencapai Rp99.503.
(Baca: Rata-Rata Anggaran Penduduk Kota Kupang untuk Membeli Kubis Rp146 per Kapita per Minggu)
Secara historis, pengeluaran untuk rokok dan tembakau di Kabupaten Kepulauan Aru cenderung fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir. Dimulai dari Rp51.756 pada 2018, kemudian melonjak signifikan sebesar 56,4 persen menjadi Rp80.935 pada 2019. Namun, pada 2020 terjadi penurunan sebesar 14,2 persen menjadi Rp69.412. Kemudian, pada 2021 kembali naik sebesar 32,3 persen menjadi Rp91.854, namun kembali turun 14,9 persen menjadi Rp78.186 pada 2022.
Jika dibandingkan dengan total pengeluaran per kapita sebulan untuk aneka barang dan jasa yang mencapai Rp215.452, pengeluaran untuk rokok dan tembakau mencapai sekitar 33,7 persen dari total tersebut. Sementara itu, pengeluaran untuk rokok dan tembakau lebih rendah dibandingkan pengeluaran untuk makanan jadi yang mencapai Rp96.694.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Kecantikan Kab. Lumajang | 2024)
Di antara kabupaten/kota se-Provinsi Maluku, Kabupaten Kepulauan Aru menempati peringkat ke-7 dalam hal besaran pengeluaran untuk rokok dan tembakau pada 2024. Peringkat ini berada di bawah Kabupaten Seram Bagian Barat yang mencapai Rp81.971 dan di atas Kabupaten Seram Bagian Timur dengan nilai Rp72.030. Secara nasional, Kabupaten Kepulauan Aru berada di peringkat ke-480.
Di antara kabupaten/kota lain di Maluku, Kabupaten Buru mencatatkan pengeluaran tertinggi untuk rokok dan tembakau pada 2024, yaitu sebesar Rp156.385, dengan pertumbuhan 54,4 persen. Kota Ambon berada di urutan kedua dengan Rp123.215, tumbuh 35,1 persen. Kabupaten Maluku Tengah mencatat Rp106.488 dengan pertumbuhan 5,6 persen. Kota Tual memiliki angka Rp93.265, namun mengalami penurunan sebesar 3,8 persen. Kabupaten Maluku Tenggara mencatatkan Rp84.290 dengan pertumbuhan 1,1 persen.
Kota Ambon
Berdasarkan data BPS, Kota Ambon mencatatkan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan sebesar Rp996.551 pada 2024, meningkat 11,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp892.582,1. Kota Ambon menempati peringkat pertama se-Provinsi Maluku untuk indikator ini. Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan di Kota Ambon mencapai Rp1.766.770 pada 2024, tumbuh sedikit 0,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pengeluaran untuk makanan tercatat Rp770.218, meningkat 6 persen, menempatkan Kota Ambon di peringkat pertama untuk pengeluaran makanan.
Kota Tual
Kota Tual mencatatkan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan sebesar Rp602.421 pada 2024, meningkat signifikan 18,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp507.460,84. Kota Tual menempati peringkat kedua se-Provinsi Maluku untuk indikator ini. Pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan justru turun 12,3 persen menjadi Rp1.248.980. Pengeluaran untuk makanan tercatat Rp646.559, tumbuh 26,4 persen.
Kabupaten Buru
Kabupaten Buru mencatatkan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan sebesar Rp558.129 pada 2024, sedikit menurun 0,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp562.352,68. Kabupaten Buru menempati peringkat ketiga se-Provinsi Maluku untuk indikator ini. Pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan turun 11,1 persen menjadi Rp1.215.290. Pengeluaran untuk makanan tercatat Rp657.161, tumbuh 24 persen.
Kabupaten Maluku Tengah
Kabupaten Maluku Tengah mencatatkan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan sebesar Rp545.981 pada 2024, meningkat 8,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp501.614,48. Kabupaten Maluku Tengah menempati peringkat keempat se-Provinsi Maluku untuk indikator ini. Pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan turun 11,5 persen menjadi Rp1.174.978. Pengeluaran untuk makanan tercatat Rp628.997, tumbuh 3,4 persen.