- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
International Monetary Fund (IMF) mencatat nilai PDB Paritas Daya Beli Bahrain tahun 2024 berada di angka 0,17 unit. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 3,49 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan menandai periode kontraksi ekonomi berkelanjutan kedua secara berturut-turut. Kontraksi disini berarti nilai output ekonomi riil yang diukur dengan daya beli masyarakat mengalami penyusutan, bukan sekedar koreksi nilai tukar mata uang saja.
(Baca: Jumlah Sekolah SMA di Jambi | 2024)
Jika dilihat tiga tahun terakhir mulai 2022 hingga 2024, rata-rata pertumbuhan PDB PPP Bahrain tercatat minus 3,67 persen per tahun. Angka ini jauh lebih buruk dibandingkan rata-rata pertumbuhan lima tahun terakhir yang masih mencatatkan rata-rata minus 1,55 persen, maupun rata-rata 10 tahun terakhir sebesar minus 1,76 persen. Selama periode tiga tahun terakhir, hanya tahun 2022 yang tidak mencatatkan kontraksi dengan pertumbuhan nol persen.
Satuan unit dalam data yang disajikan di artikel ini merupakan hasil perhitungan IMF atas nilai PDB harga berlaku mata uang nasional Bahrain terhadap dolar internasional. Dalam Publikasinya, IMF menyebutkan perhitungan digunakan untuk tujuan penyusunan komposit kelompok negara. Data yang dihasilkan ini dikatakan bukan sebagai sumber utama penyajian data paritas daya beli (PPP).
Sepanjang 10 tahun data historis yang tercatat, pertumbuhan tertinggi PDB PPP Bahrain terjadi pada tahun 2021 dengan angka pertumbuhan positif 8,77 persen, yaitu masa pemulihan awal pasca krisis pandemi global. Sementara titik terendah pertumbuhan terjadi pada tahun 2023 dengan kontraksi sebesar 7,53 persen, yang menjadi anomali terbesar karena penurunan ini terjadi disaat sebagian besar negara di kawasan Timur Tengah justru mencatatkan ekspansi ekonomi pasca pandemi.
Secara peringkat regional di kawasan Timur Tengah, posisi Bahrain tetap bertahan di peringkat 12 selama empat tahun berturut-turut mulai tahun 2021 hingga 2024. Tidak ada perbaikan peringkat sama sekali, bahkan posisi ini lebih buruk dibandingkan periode sebelum 2020 yang sempat beberapa kali menempati peringkat 11 kawasan.
(Baca: Jumlah Penduduk Bekerja di Kota Sukabumi 173,35 Ribu dan Angka Pengangguran 8,21 Persen)
Fluktuasi yang terjadi pada data 10 tahun terakhir Bahrain tidak berarti naik turun secara seimbang. Fluktuasi disini berarti setiap kali terjadi pemulihan pertumbuhan positif, selalu diikuti dengan penurunan yang jauh lebih dalam pada tahun berikutnya, sehingga tidak pernah terjadi akumulasi peningkatan nilai PDB PPP secara permanen selama satu dekade terakhir.
Jika dibandingkan dengan 5 negara teratas kawasan Timur Tengah, nilai PDB PPP Bahrain tahun 2024 masih 11,5 kali lebih rendah dibandingkan Kuwait yang berada di peringkat 10, dan bahkan ratusan kali lipat lebih kecil dibandingkan Arab Saudi, Qatar maupun Uni Emirat Arab yang menduduki tiga besar kawasan. Sementara itu sebagian besar negara teratas kawasan masih mencatatkan pertumbuhan positif pada tahun yang sama.
Berdasarkan proyeksi IMF, nilai PDB PPP Bahrain akan terus mengalami kontraksi hingga tahun 2025, sebelum akhirnya stagnan di angka 0,158 unit mulai tahun 2026 hingga setidaknya 2030. Artinya tidak ada perbaikan kondisi ekonomi yang diproyeksikan dalam enam tahun ke depan, bahkan kondisi daya beli masyarakat akan tetap lebih buruk dibandingkan seluruh periode sebelum tahun 2023.
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Jul) | 2,88% | -0.46 | |
| Inflasi mom (Jul) | -0,14% | -0.58 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.869 | +0.05 | |
| PDB ADHK (Q1) | 3.447,70 | -0.77 | |
| Neraca perdagangan (Jun) | -450,50 | -72.02 | |
| Ekspor Migas (Jun) | 1,07 | +40.52 | |
| Impor Migas (Jun) | 4,56 | +0.96 | |
| Ekspor (Jun) | 25,46 | +9.72 | |
| Impor (Jun) | 25,91 | +4.41 | |
| Kunjungan Wisman (Mei) | 1,38 | +10.69 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |