Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran per kapita masyarakat Kabupaten Bekasi untuk sabun mandi pada tahun 2024 mencapai 87848 Rupiah per kapita per bulan. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 1,6 persen dibandingkan tahun 2023. Selama periode 2018 hingga 2024, angka pengeluaran ini tercatat bergerak dengan pola naik turun secara bertahap sesuai data pengeluaran rumah tangga.
(Baca: 8% Penduduk di Kabupaten Barru Masuk Kategori Miskin)
Dari total pengeluaran rumah tangga, biaya untuk sabun mandi menyumbang 2,58 persen dari rata-rata pengeluaran aneka barang jasa, dan hanya 0,41 persen dari total pengeluaran bulanan per kapita untuk makanan dan bukan makanan. Sebagai perbandingan, pengeluaran untuk rokok dan tembakau masyarakat Kabupaten Bekasi hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan total pengeluaran tahunan untuk sabun mandi.
Selama tujuh tahun terakhir, pengeluaran untuk sabun mandi di wilayah ini mencapai pengeluaran tertinggi pada tahun 2022 dengan nilai 91835 Rupiah per kapita per bulan. Setelah tahun tersebut, angka konsumsi mengalami penurunan sedikit secara berturut-turut selama dua tahun berturut-turut sampai tahun 2024. Kenaikan tertinggi dalam periode ini terjadi pada tahun 2021 dengan peningkatan sebesar 13,9 persen dari tahun sebelumnya.
Berdasarkan perbandingan se-provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bekasi menempati urutan kelima untuk nilai pengeluaran sabun mandi tahun 2024. Empat wilayah di atasnya secara berurutan adalah Kota Bekasi, Kota Depok, Kota Bandung, dan Kota Bogor. Posisi ranking ini tidak mengalami perubahan dibandingkan posisi tahun sebelumnya. Secara nasional, wilayah ini berada di urutan ke 82 dari seluruh kabupaten dan kota di Indonesia.
Secara perbandingan dengan wilayah sekitar, Kota Bekasi mencatat pengeluaran sabun mandi tertinggi di provinsi yaitu sebesar 146439 Rupiah per kapita per bulan, meskipun mengalami penurunan sebesar 3,2 persen pada tahun 2024. Kota Depok menjadi satu-satunya wilayah lima besar yang mencatat kenaikan nilai pengeluaran, yaitu sebesar 2,8 persen menjadi 125490 Rupiah per kapita per bulan. Sementara Kota Bandung mengalami penurunan paling besar di lima teratas yaitu sebesar 13,5 persen.
Kota Bekasi
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan Besar untuk Rokok dan Tembakau Kab. Kuningan | 2024)
Badan Pusat Statistik mencatat total pengeluaran per kapita bulanan masyarakat Kota Bekasi pada tahun 2024 mencapai 3345253 Rupiah untuk semua kategori pengeluaran. Nilai ini menempati urutan pertama di seluruh wilayah Jawa Barat, dengan pertumbuhan sebesar 16,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pengeluaran bukan makanan di wilayah ini juga mencatat pertumbuhan 18,3 persen, menjadi pertumbuhan tertinggi dibandingkan seluruh kabupaten dan kota lain di provinsi yang sama.
Kota Depok
Sebagai wilayah urutan kedua di Jawa Barat, Kota Depok memiliki total pengeluaran per kapita bulanan sebesar 3021242 Rupiah pada tahun 2024. Wilayah ini mencatat pertumbuhan total pengeluaran sebesar 10,9 persen, dengan pengeluaran bukan makanan tumbuh sebesar 12,1 persen dari tahun sebelumnya. Posisi ranking Kota Depok tidak mengalami perubahan dibandingkan posisi tahun sebelumnya, tetap berada di bawah Kota Bekasi dan di atas wilayah lainnya.
Kabupaten Bekasi
Kabupaten Bekasi menempati urutan keenam untuk total pengeluaran per kapita bulanan di seluruh provinsi Jawa Barat pada tahun 2024, dengan nilai total mencapai 2107286 Rupiah. Wilayah ini mencatat pertumbuhan total pengeluaran sebesar 5,9 persen, dengan pengeluaran bukan makanan tumbuh sebesar 1,5 persen dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan pengeluaran makanan di wilayah ini mencapai 11,1 persen, menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi di lima belas wilayah teratas provinsi Jawa Barat.
Kota Bandung
Kota Bandung menempati urutan ketiga untuk total pengeluaran per kapita bulanan di Jawa Barat pada tahun 2024 dengan nilai 2636944 Rupiah. Berbeda dengan dua wilayah teratas, Kota Bandung mencatat penurunan total pengeluaran sebesar 4,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pengeluaran bukan makanan di wilayah ini juga mengalami penurunan sebesar 7 persen, sementara pengeluaran makanan hanya mengalami penurunan sedikit sebesar 1 persen selama periode yang sama.