PT Waskita Karya (Persero) Tbk mencetak rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan sebesar Rp678,03 miliar pada kuartal I 2026.
Rugi bersih ini menyusut 45,59% dibanding kuartal I tahun lalu (year-on-year/yoy) yang kerugiannya mencapai Rp1,25 triliun.
Sejalan dengan itu, pendapatan emiten berkode WSKT ini tumbuh 54,86% (yoy) menjadi Rp2,1 triliun pada kuartal I 2026.
Pendapatan ini paling banyak berasal dari jasa konstruksi dengan nilai Rp1,60 triliun, diikuti pendapatan jalan tol Rp322,78 miliar, penjualan precast Rp102,89 miliar, dan hotel Rp22,97 miliar.
Ada juga pendapatan dari segmen properti Rp26,02 miliar, penjualan infrastruktur lainnya Rp19,16 miliar, dan sewa gedung Rp2,19 miliar.
Sementara dari sisi operasional, beban pokok pendapatan WSKT melonjak 74,90% (yoy) menjadi Rp1,92 triliun.
Sampai akhir Maret 2026, Waskita Karya memiliki aset senilai Rp68,89 triliun. Nilainya menyusut 2,60% dibanding posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp70,73 triliun.
(Baca: Kerugian Waskita Karya (WSKT) Membengkak 52% pada 2025, Terbesar dalam Lima Tahun)
Adapun sepanjang 2025, WSKT membukukan nilai kontrak baru (NKB) senilai Rp12,52 triliun.
Kontrak tersebut didominasi proyek-proyek pemerintah, seperti jaringan irigasi, Sekolah Rakyat (SR), hingga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di berbagai wilayah.
Menurut Corporate Secretary Waskita Karya Ermy Puspa Yunita, saat ini perseroan menerapkan kebijakan ketat melalui Komite Manajemen Konstruksi untuk memastikan proyek yang dikelola memiliki skema pembayaran bulanan dan menghindari proyek turnkey, di mana pemilik proyek baru menyelesaikan pembayaran setelah kontraktor menyelesaikan proyek.
"Melalui Komite Manajemen Konstruksi, perseroan memastikan proyek yang akan dikelola tidak membebani dari segi keuangan dan rendah risiko," kata Ermy dalam siaran pers, Kamis (2/4/2026).
(Baca: 10 Emiten Sektor Infrastruktur dengan Aset Terbesar di BEI Kuartal III 2025)