Kerugian PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) sepanjang 2025 mencapai Rp3,93 triliun, membengkak 52% dibanding kerugian pada 2024 (year-on-year/yoy).
Nilai kerugian tersebut juga menjadi yang paling besar dalam lima tahun terakhir, seperti terlihat pada grafik.
Pada 2025, WSKT membukukan pendapatan usaha sebesar Rp8,82 triliun, ambles 17,64% (yoy). Pendapatannya ditopang segmen jasa konstruksi dengan nilai Rp6,76 triliun.
Kemudian pendapatan dari segmen jalan tol Rp1,16 triliun, precast Rp682,72 miliar, hotel Rp103,03 miliar, properti Rp61,56 miliar, penjualan infrastruktur lainnya Rp39,67 miliar, serta sewa gedung dan peralatan Rp8,76 miliar.
Perolehan tersebut tergerus beban pokok pendapatan yang berkurang 22,09% (yoy) menjadi Rp7,24 triliun sepanjang 2025.
Per 31 Desember 2025, emiten pelat merah ini mencatatkan aset sebesar Rp70,73 triliun, turun 8,33% (yoy). Asetnya berupa liabilitas Rp67,06 triliun dan ekuitas Rp3,67 triliun.
Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, mengatakan pada 2025 WSKT berhasil menurunkan liabilitas sebanyak Rp2,21 triliun.
Menurutnya, fokus manajemen kini menurunkan liabilitas melalui beberapa rencana strategis, di antaranya percepatan divestasi jalan tol dan optimalisasi aset.
"Pada 2025 Waskita telah menyelesaikan sejumlah aksi pelepasan saham, seperti divestasi PT Waskita Sangir Energi sebesar 94,7% melalui anak usaha PT Waskita Karya Infrastruktur pada September," kata Ermy dalam siaran pers, Rabu (1/4/2026).
Pada November 2025, WSKT juga melepas 35% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways melalui PT Waskita Toll Road.
Lalu pada Desember 2025, WSKT lewat anak usahanya, PT Waskita Karya Realty, mendivestasikan 20% saham PT Waskita Modern Realty.
Menurut Ermy, langkah tersebut bertujuan mengoptimalkan portofolio investasi dan memperkuat likuiditas keuangan WSKT.
(Baca: Kerugian Waskita Beton (WSBP) Menyusut 46% pada 2025)