Survei TIFA Foundation bersama Populix menunjukkan, sebanyak 80% dari total responden jurnalis di Indonesia mengaku pernah melakukan self-censorship atau penyensoran mandiri dalam setahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Ini merupakan praktik ketika seorang jurnalis secara sadar membatasi atau menyesuaikan pemberitaan yang akan diterbitkan karena kekhawatiran terhadap konsekuensi tertentu.
Berdasarkan isunya, pemberitaan terkait Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi topik yang paling banyak dilakukan sensor mandiri oleh 58% responden.
"Temuan ini menunjukkan bahwa jurnalis cenderung lebih berhati-hati, bahkan membatasi diri saat meliput agenda strategis pemerintah, karena tingginya sensitivitas politik dan potensi tekanan," tulis TIFA Foundation dan Populix dalam laporannya.
Lengkapnya, berikut jenis tulisan atau topik yang banyak disensor mandiri oleh responden jurnalis pada 2025:
- Isu liputan Makan Bergizi Gratis (MBG): 58%
- Proyek Strategis Nasional (PSN): 52%
- Isu kriminalitas: 49%
- Pemerintahan/korupsi/birokrasi: 40%
- Demonstrasi dan aksi massa: 37%
- Isu keamanan/konflik: 37%
- Isu agama/kepercayaan: 33%
- Isu agraria/pertanahan: 32%
- Isu lingkungan, energi, dan pertambangan: 31%
- Politik dan pemilu: 28%
- Liputan perusahaan/swasta (korporasi, bisnis): 23%
- Isu HAM dan kelompok rentan (perempuan, anak, minoritas, dan lainnya): 16%
- Isu tenaga kerja/buruh/serikat pekerja: 13%
- Isu internal media atau industri media: 8%
- Lainnya: 2%
TIFA Foundation menggelar survei ini melalui kerja sama dengan Populix, dengan melibatkan 655 responden jurnalis aktif.
Mayoritas responden merupakan jurnalis lapangan (80%), diikuti editor/redaktur (12%), redaktur pelaksana (8%), pemimpin redaksi (6%), dan lainnya (2%).
Responden tersebar di Pulau Jawa (47%), Sumatera (18%), Sulawesi (11%), Kalimantan (8%), Bali-Nusa Tenggara (7%), Papua (5%), dan Maluku-Maluku Utara (4%).
Pengambilan data dilakukan 2025 menggunakan dua metode, yakni kuantitatif dan kualitatif. Selain survei, mereka juga mengambil data sekunder berupa data kekerasan terhadap jurnalis yang dihimpun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, serta wawancara mendalam dengan sejumlah stakeholder di bidang media.
(Baca: Setahun Era Prabowo-Gibran, 67% Jurnalis RI Pernah Terima Kekerasan)