Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tubagus Solihuddin, mengungkap, berbagai daerah di Pulau Jawa mengalami penurunan muka tanah.
Berdasarkan data geospasial periode 2017-2023, Tubagus mengatakan, laju amblesan tanah tertinggi tercatat di Demak, Jawa Tengah, yang mencapai 16 sentimeter (cm) per tahun.
Berikut sembilan daerah di Pulau Jawa yang mengalami penurunan muka tanah, menurut riset Tubagus yang mengutip data geospasial 2017-2023:
- Demak (Jawa Tengah): 16 cm/tahun
- Jakarta (DKI Jakarta): 15 cm/tahun
- Sidoarjo (Jawa Timur): 14 cm/tahun
- Pekalongan (Jawa Tengah): 11 cm/tahun
- Surabaya (Jawa Timur): 8 cm/tahun
- Brebes (Jawa Tengah): 7 cm/tahun
- Serang (Banten): 6 cm/tahun
- Cirebon (Jawa Barat): 6 cm/tahun
- Indramayu (Jawa Barat): 6 cm/tahun
Temuan ini, lanjut Tubagus, menunjukkan kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa sedang menghadapi krisis nyata.
Sebab, tantangan yang dihadapi Pantura bukan hanya erosi, abrasi, dan banjir, tetapi juga kenaikan muka air laut dan amblesan tanah.
“Itu bukan isu lokal, itu isu nasional. Mengingat Pantura Jawa sebagai tulang punggung perekonomian nasional,” tegas Tubagus, dikutip dari laman BRIN, Senin (4/5/2026)
Menghadapi kompleksitas krisis tersebut, Tubagus menekankan pentingnya transisi menuju pendekatan lintas sektoral dan kewilayahan.
Ia menegaskan, tidak ada solusi tunggal yang bisa diterapkan di seluruh kawasan Pantura. Sebab, setiap segmen pantai memiliki karakteristik dan morfologi yang berbeda.
Ke depannya, Tubagus mendorong kebijakan penanganan pesisir mutlak dilandaskan pada riset saintifik, data kredibel, dan mengedepankan keseimbangan ekosistem alih-alih sekadar pembangunan infrastruktur.
(Baca: Transisi Energi Dominasi Pemberitaan "Isu Hijau" di Media Online Indonesia)