Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa persentase rumah tangga di Bali yang menggunakan listrik sebagai sumber penerangan pada tahun 2025 mencapai 99.98 persen. Perkembangan data historis dari tahun 1996 hingga 2025 menunjukkan pertumbuhan umumnya positif, dengan kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 1997 sebesar 3.08 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Beberapa tahun mengalami penurunan sedikit, seperti tahun 2001 dengan pertumbuhan -0.57 persen, tahun 2003 dengan -0.9 persen, dan tahun 2023 dengan -0.09 persen. Nilai tahun 2025 sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata 3 tahun terakhir (2023-2025) yang sebesar 99.98 persen dan rata-rata 5 tahun terakhir (2021-2025) yang sebesar 99.95 persen, menunjukkan kondisi yang stabil dan mendekati 100 persen. Ranking se-Indonesia Bali pada tahun 2025 berada di posisi 8, turun dari posisi 1 pada tahun 2022, sedangkan ranking menurut pulau Nusa Tenggara dan Bali berada di posisi 2, turun dari posisi 1 pada tahun 2023.
(Baca: Pengeluaran Penduduk Kabupaten Bengkalis untuk Membeli Sayur Matang Rp1.128 per Kapita per Minggu)
Dibandingkan dengan provinsi lain di pulau Nusa Tenggara dan Bali, Bali berada di ranking 2 dengan nilai 99.98 persen, ketinggalan sedikit dari Nusa Tenggara Barat (NTB) yang memiliki nilai 99.99 persen dan ranking 1 di pulau. Ranking se-Indonesia NTB berada di posisi 6, lebih baik dari Bali yang berada di posisi 8. Selisih nilai antara NTB dan Bali hanya 0.01 persen, menunjukkan bahwa akses listrik di kedua provinsi hampir sama luas. Di antara provinsi lain yang dibandingkan, Bengkulu dan Jawa Timur juga memiliki nilai tahun terakhir sebesar 99.99 persen dengan ranking se-Indonesia 6, sedangkan Kalimantan Timur, Aceh, Kepulauan Riau, dan Lampung memiliki nilai antara 99.96 hingga 99.97 persen dengan ranking se-Indonesia yang lebih rendah.
Bengkulu
Bengkulu menempati ranking 6 se-Indonesia dan ranking 1 di pulau Sumatera untuk indikator persentase rumah tangga menggunakan listrik sebagai sumber penerangan pada tahun 2025, dengan nilai tahun terakhir sebesar 99.99 persen. Nilai ini menunjukkan sedikit kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 0.11 persen, dengan pertumbuhan yang stabil dibandingkan rata-rata 3 tahun terakhir (2023-2025) yang mencapai sekitar 99.89 persen. Dibandingkan dengan Bali, Bengkulu memiliki nilai yang sedikit lebih tinggi dan ranking se-Indonesia yang lebih baik, menunjukkan akses listrik yang lebih luas di tingkat rumah tangga. Perkembangan data historis Bengkulu menunjukkan bahwa pertumbuhan persentase rumah tangga listrik telah konsisten meningkat selama beberapa tahun terakhir, tanpa adanya penurunan signifikan yang dapat dianggap sebagai anomali. Ranking di pulau Sumatera tetap stabil di posisi 1 selama tahun terakhir, menunjukkan dominasi Bengkulu dalam akses listrik di wilayah tersebut dibandingkan provinsi lain di pulau Sumatera seperti Aceh, Kepulauan Riau, dan Lampung yang memiliki nilai tahun terakhir sebesar 99.97 persen, 99.96 persen, dan 99.96 persen masing-masing.
Jawa Timur
Jawa Timur menempati ranking 6 se-Indonesia dan ranking 5 di pulau Jawa untuk indikator persentase rumah tangga menggunakan listrik sebagai sumber penerangan pada tahun 2025, dengan nilai tahun terakhir sebesar 99.99 persen. Nilai ini menunjukkan sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya turun 0.01 persen, namun tetap berada di tingkat yang mendekati 100 persen. Rata-rata 3 tahun terakhir (2023-2025) untuk Jawa Timur mencapai sekitar 99.99 persen, menunjukkan kondisi yang sangat stabil. Dibandingkan dengan Bali, Jawa Timur memiliki nilai yang sedikit lebih tinggi dan ranking se-Indonesia yang sama dengan NTB dan Bengkulu, lebih baik dari Bali yang berada di posisi 8. Ranking di pulau Jawa berada di posisi 5, menunjukkan bahwa ada provinsi lain di Jawa yang memiliki akses listrik yang lebih luas, seperti DKI Jakarta atau Jawa Barat yang mungkin memiliki nilai lebih tinggi meskipun tidak termasuk dalam data perbandingan ini. Perkembangan data historis Jawa Timur menunjukkan bahwa pertumbuhan persentase rumah tangga listrik telah konsisten mendekati 100 persen selama beberapa tahun terakhir, dengan hanya sedikit fluktuasi yang tidak signifikan.
(Baca: Jumlah Sekolah SMA di Sumatera Selatan 2018 - 2024)
Nusa Tenggara Barat (NTB)
Nusa Tenggara Barat (NTB) menempati ranking 6 se-Indonesia dan ranking 1 di pulau Nusa Tenggara dan Bali untuk indikator persentase rumah tangga menggunakan listrik sebagai sumber penerangan pada tahun 2025, dengan nilai tahun terakhir sebesar 99.99 persen. Nilai ini menunjukkan sedikit kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 0.01 persen, dengan pertumbuhan yang stabil dibandingkan rata-rata 3 tahun terakhir (2023-2025) yang mencapai sekitar 99.98 persen. Dibandingkan dengan Bali, NTB memiliki nilai yang sedikit lebih tinggi dan ranking di pulau yang lebih baik, menunjukkan akses listrik yang lebih luas di tingkat rumah tangga. Ranking se-Indonesia NTB berada di posisi 6, sama dengan Bengkulu dan Jawa Timur, lebih baik dari Bali yang berada di posisi 8. Perkembangan data historis NTB menunjukkan bahwa pertumbuhan persentase rumah tangga listrik telah konsisten meningkat selama beberapa tahun terakhir, tanpa adanya penurunan signifikan yang dapat dianggap sebagai anomali. Ranking di pulau Nusa Tenggara dan Bali tetap stabil di posisi 1 selama tahun terakhir, menunjukkan dominasi NTB dalam akses listrik di wilayah tersebut dibandingkan Bali.
Kalimantan Timur
Kalimantan Timur menempati ranking 9 se-Indonesia dan ranking 1 di pulau Kalimantan untuk indikator persentase rumah tangga menggunakan listrik sebagai sumber penerangan pada tahun 2025, dengan nilai tahun terakhir sebesar 99.97 persen. Nilai ini menunjukkan sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya turun 0.01 persen, namun tetap berada di tingkat yang mendekati 100 persen. Rata-rata 3 tahun terakhir (2023-2025) untuk Kalimantan Timur mencapai sekitar 99.97 persen, menunjukkan kondisi yang sangat stabil. Dibandingkan dengan Bali, Kalimantan Timur memiliki nilai yang sedikit lebih rendah dan ranking se-Indonesia yang lebih rendah, menunjukkan akses listrik yang sedikit lebih terbatas dibandingkan Bali. Ranking di pulau Kalimantan berada di posisi 1, menunjukkan bahwa Kalimantan Timur adalah provinsi dengan akses listrik yang paling luas di pulau tersebut. Perkembangan data historis Kalimantan Timur menunjukkan bahwa pertumbuhan persentase rumah tangga listrik telah konsisten mendekati 100 persen selama beberapa tahun terakhir, dengan hanya sedikit fluktuasi yang tidak signifikan.
Aceh
Aceh menempati ranking 9 se-Indonesia dan ranking 2 di pulau Sumatera untuk indikator persentase rumah tangga menggunakan listrik sebagai sumber penerangan pada tahun 2025, dengan nilai tahun terakhir sebesar 99.97 persen. Nilai ini menunjukkan sedikit kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 0.11 persen, dengan pertumbuhan yang stabil dibandingkan rata-rata 3 tahun terakhir (2023-2025) yang mencapai sekitar 99.89 persen. Dibandingkan dengan Bali, Aceh memiliki nilai yang sedikit lebih rendah dan ranking se-Indonesia yang sama dengan Kalimantan Timur, lebih rendah dari Bali yang berada di posisi 8. Ranking di pulau Sumatera berada di posisi 2, ketinggalan dari Bengkulu yang berada di posisi 1. Perkembangan data historis Aceh menunjukkan bahwa pertumbuhan persentase rumah tangga listrik telah konsisten meningkat selama beberapa tahun terakhir, tanpa adanya penurunan signifikan yang dapat dianggap sebagai anomali. Selisih nilai antara Aceh dan Bengkulu adalah 0.02 persen, menunjukkan bahwa akses listrik di kedua provinsi hampir sama luas dengan sedikit keunggulan pada Bengkulu.