Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Garis Kemiskinan Makanan di Perkotaan Provinsi Lampung per September 2025 mencapai 506.540 Rupiah per kapita per bulan. Pada semester tersebut terjadi kenaikan sebesar 4,01 persen dibandingkan periode Maret 2025, dengan selisih nilai sebesar 19.516 Rupiah per kapita per bulan. Sepanjang 21 periode data historis sejak Maret 2015, nilai garis kemiskinan ini terus mencatatkan pertumbuhan positif tanpa pernah mengalami penurunan dalam setiap semester.
(Baca: BPS: Garis Kemiskinan Makanan dan Nonmakanan di Kep. Riau Naik 5,74%(Data Desember 2025))
Rata-rata pertumbuhan 3 semester terakhir Lampung mencapai 3,52 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata 5 semester terakhir yang sebesar 2,93 persen. Kenaikan tertinggi dalam 5 semester terakhir tercatat pada September 2024 sebesar 4,98 persen, sedangkan kenaikan terendah terjadi pada Maret 2025 dengan pertumbuhan sangat sedikit sebesar 0,12 persen yang menjadi anomali terendah sepanjang sejarah data. Posisi ranking Lampung di Pulau Sumatera tetap di urutan ke-9 sejak September 2017, tidak mengalami perubahan hingga semester ini.
Untuk ranking nasional per September 2025, Lampung berada di urutan ke-22 dari seluruh provinsi di Indonesia. Posisi ini tetap sama selama 3 periode terakhir, setelah sebelumnya turun peringkat dari urutan 16 pada Maret 2023. Pada periode yang sama, seluruh provinsi pembanding juga mencatatkan pertumbuhan positif garis kemiskinan makanan perkotaan, dengan rentang pertumbuhan antara 0,44 persen hingga 6,68 persen.
Nilai garis kemiskinan makanan perkotaan Lampung per September 2025 lebih rendah dibanding seluruh enam provinsi pembanding. Nilai terendah diantara provinsi pembanding adalah Nusa Tenggara Timur sebesar 494.944 Rupiah per kapita per bulan, hanya berbeda sekitar 11.596 Rupiah dibanding nilai Lampung. Sementara nilai tertinggi dicatatkan oleh Papua dengan 544.320 Rupiah per kapita per bulan.
Papua
Papua menempati urutan pertama nilai Garis Kemiskinan Makanan Perkotaan diantara provinsi pembanding, dengan nilai semester terakhir mencapai 544.320 Rupiah per kapita per bulan. Provinsi ini mencatatkan pertumbuhan paling sedikit pada periode terakhir yaitu hanya 0,44 persen, dengan selisih kenaikan sebesar 2.385 Rupiah dibanding semester sebelumnya. Secara ranking nasional Papua berada di urutan 19, tiga peringkat lebih baik dibanding Lampung, dan menempati urutan 6 di wilayah pulau sendiri.
Banten
Banten mencatatkan nilai Garis Kemiskinan Makanan Perkotaan semester terakhir sebesar 532.976 Rupiah per kapita per bulan, menempati urutan kedua setelah Papua diantara provinsi pembanding. Pertumbuhan pada periode ini mencapai 4,47 persen dengan selisih kenaikan 22.784 Rupiah, menjadikan pertumbuhan Banten sedikit lebih tinggi dibanding pertumbuhan Lampung periode yang sama. Secara ranking nasional Banten berada di urutan 20, dua peringkat diatas Lampung, dan menempati urutan ke 2 di wilayah Pulau Jawa.
(Baca: BPS: Jumlah Penduduk Miskin di Kep. Bangka Belitung Turun 3,94%(Data Desember 2025))
Kalimantan Barat
Kalimantan Barat memiliki nilai Garis Kemiskinan Makanan Perkotaan semester terakhir sebesar 526.802 Rupiah per kapita per bulan, berada di urutan ketiga dari seluruh provinsi pembanding. Pertumbuhan periode ini mencapai 6,18 persen, hampir satu setengah kali lipat pertumbuhan Lampung pada periode yang sama, dengan selisih kenaikan sebesar 30.649 Rupiah. Provinsi ini menempati urutan ke 3 di wilayah Pulau Kalimantan dan peringkat 21 secara nasional, satu peringkat diatas Lampung.
Kalimantan Tengah
Kalimantan Tengah mencatatkan nilai Garis Kemiskinan Makanan Perkotaan sebesar 506.058 Rupiah per kapita per bulan untuk semester terakhir, hampir setara dengan nilai Lampung. Pertumbuhan provinsi ini pada periode sama mencapai 6,68 persen, menjadi pertumbuhan tertinggi diantara seluruh provinsi pembanding, dengan selisih kenaikan mencapai 31.684 Rupiah. Secara ranking Kalimantan Tengah berada di urutan 4 di Pulau Kalimantan dan urutan 23 secara nasional, satu peringkat dibawah Lampung.
Sulawesi Tengah
Sulawesi Tengah menempati urutan pertama di wilayah Pulau Sulawesi untuk indikator Garis Kemiskinan Makanan Perkotaan, dengan nilai semester terakhir sebesar 495.786 Rupiah per kapita per bulan. Pertumbuhan periode ini mencapai 5,92 persen dengan selisih kenaikan 27.698 Rupiah, lebih tinggi dibanding pertumbuhan Lampung periode yang sama. Secara nasional provinsi ini berada di urutan 24, dua peringkat dibawah posisi Lampung pada periode September 2025.
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur menempati urutan pertama di wilayah Nusa Tenggara dan Bali untuk indikator ini, dengan nilai Garis Kemiskinan Makanan Perkotaan semester terakhir sebesar 494.944 Rupiah per kapita per bulan. Pertumbuhan pada periode ini mencapai 3,65 persen, sedikit dibawah pertumbuhan Lampung, dengan selisih kenaikan sebesar 17.445 Rupiah. Secara nasional provinsi ini berada di urutan 25, tiga peringkat dibawah posisi Lampung pada periode pencatatan September 2025.