Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada tahun 2024, persentase desa tanpa sinyal di Kabupaten Nias, Sumatera Utara adalah sebesar 1.76 persen. Jika melihat data historis, terjadi fluktuasi. Tahun 2019 mengalami kenaikan tertinggi sebesar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya, namun kemudian terjadi penurunan signifikan pada tahun 2020 dan 2021. Pada tahun 2024, terjadi kenaikan kembali sebesar 200.02 persen dibandingkan tahun 2021.
Dibandingkan dengan rata-rata lima tahun terakhir (2018-2024), kondisi tahun 2024 menunjukkan perbaikan, meskipun tidak signifikan. Rata-rata persentase desa tanpa sinyal dalam lima tahun terakhir adalah 2.24 persen, sedikit lebih tinggi dari angka 1.76 persen pada tahun 2024. Peringkat Kabupaten Nias menurut pulau juga mengalami fluktuasi, dari peringkat 30 pada tahun 2018 menjadi peringkat 29 pada tahun 2024.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Aneka Barang dan Jasa Kab. Lamongan | 2024)
Secara nasional, pada tahun 2024, Kabupaten Nias berada di peringkat 104. Terjadi perbaikan dibandingkan tahun 2021 yang berada di peringkat 212. Namun, kondisi ini masih jauh dari tahun 2019 yang menempati peringkat 137 secara nasional. Anomali terjadi pada tahun 2024. Terjadi peningkatan persentase desa tanpa sinyal setelah mengalami penurunan signifikan dalam tiga tahun sebelumnya. Kondisi ini memerlukan perhatian lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor penyebabnya.
Jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Pulau Sumatera pada tahun 2024, Kabupaten Nias berada di urutan yang kurang baik dibandingkan Kabupaten Indragiri Hilir. Kabupaten Nias memiliki persentase desa tanpa sinyal yang lebih tinggi.
Kabupaten Bone Bolango
Kabupaten Bone Bolango menempati urutan ke-15 di Pulau Sulawesi dengan persentase desa tanpa sinyal sebesar 1.82 persen. Meskipun demikian, terjadi penurunan signifikan sebesar 66.67 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan upaya yang berhasil dalam meningkatkan infrastruktur telekomunikasi di wilayah tersebut. Pencapaian ini patut diapresiasi mengingat sebelumnya kabupaten ini mengalami tantangan besar dalam hal ketersediaan sinyal.
Kabupaten Toli Toli
Dengan persentase desa tanpa sinyal yang sama dengan Bone Bolango, yakni 1.82 persen, Kabupaten Toli Toli juga berada di peringkat ke-15 di Pulau Sulawesi. Namun, berbeda dengan Bone Bolango yang mengalami penurunan, Toli Toli justru mengalami penurunan drastis sebesar 93.88 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini mengindikasikan adanya intervensi yang sangat efektif dalam mengatasi masalah blank spot sinyal di wilayah tersebut.
(Baca: Harga Cabai Rawit Hijau di Pasar Modern Periode Desember 2024-2025)
Kabupaten Melawi
Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, mencatatkan persentase desa tanpa sinyal sebesar 1.78 persen. Kabupaten ini menduduki peringkat ke-15 di pulau Kalimantan. Pertumbuhan negatif turun 39.29 persen menunjukkan Kabupaten Melawi telah berhasil menekan angka desa tanpa sinyal secara signifikan.
Kabupaten Konawe Utara
Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, memiliki persentase desa tanpa sinyal 1.76 persen. Berada di peringkat 17 di pulau Sulawesi. Kabupaten Konawe Utara memiliki nilai yang sama dengan Kabupaten Nias.
Kabupaten Indragiri Hilir
Kabupaten Indragiri Hilir memiliki persentase desa tanpa sinyal 1.69 persen. Kabupaten ini menduduki ranking 30 di Pulau Sumatera. Kabupaten ini mengalami pertumbuhan positif jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Kabupaten Raja Ampat
Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, mencatat persentase desa tanpa sinyal sebesar 1.64 persen dan menduduki peringkat ke-38 di Pulau Papua. Dibandingkan tahun sebelumnya, terjadi penurunan sebesar 75.21 persen. Meski berada di wilayah kepulauan yang menantang secara geografis, Raja Ampat menunjukkan kemajuan dalam memperluas jangkauan sinyal telekomunikasi ke desa-desa terpencil.