Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi cabai rawit Provinsi Kalimantan Timur pada akhir tahun 2025 mencapai 7180,9 ton. Sepanjang 23 tahun periode data sejak 2003, nilai produksi komoditas ini berfluktuasi dengan 11 kali periode naik dan 11 kali periode turun. Rata-rata pertumbuhan keseluruhan periode mencapai 24,05% per tahun, namun rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir justru minus 2,12% dan memburuk menjadi minus 4,25% untuk rata-rata 5 tahun terakhir. Kenaikan produksi tertinggi sepanjang sejarah terjadi pada tahun 2004 dengan lonjakan 555,17% dari tahun sebelumnya, sedangkan penurunan terbesar tercatat pada tahun 2015 sebesar 29,95%.
(Baca: Statistik Nilai Investasi PMA Sektor Pertambangan Periode 2013-2025)
Sepanjang periode data historis, Kalimantan Timur sempat memegang peringkat 1 produksi cabai rawit se-Pulau Kalimantan secara berturut-turut selama 11 tahun sejak 2004, sebelum posisi ini turun secara bertahap menjadi peringkat 4 di akhir tahun 2025. Secara nasional, peringkat provinsi ini juga mengalami penurunan dari posisi 7 terbaik nasional pada tahun 2004, menjadi peringkat 23 dari seluruh provinsi di Indonesia pada pencatatan tahun 2025. Nilai produksi tahun 2025 juga tercatat berada di bawah rata-rata produksi keseluruhan periode sebesar 7474,94 ton.
Untuk tahun 2025, produksi cabai rawit Kalimantan Timur tumbuh sebesar 11,03% dibandingkan tahun 2024, setelah mengalami penurunan sebesar 13,42% pada tahun sebelumnya. Meskipun terjadi kenaikan di tahun terakhir, performa 3 hingga 5 tahun terakhir tetap menunjukkan arah penurunan rata-rata tahunan. Produksi terendah sepanjang sejarah tercatat pada tahun awal pencatatan 2003 sebesar 1836 ton, sedangkan puncak produksi tertinggi pernah dicapai pada tahun 2004 dengan nilai 12029 ton.
Kalimantan Utara
Kalimantan Utara menempati peringkat 2 se-Pulau Kalimantan untuk produksi cabai rawit tahun 2025 dengan nilai produksi mencapai 8517,8 ton, atau sekitar 18,6% lebih tinggi dibandingkan nilai produksi Kalimantan Timur pada periode yang sama. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan produksi sebesar 22,53% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi di wilayah Pulau Kalimantan tahun ini. Secara nasional, Kalimantan Utara berada di peringkat 20, satu tingkat di atas peringkat Kalimantan Timur.
Kalimantan Barat
Dengan nilai produksi sebesar 8424,2 ton, Kalimantan Barat menempati urutan ketiga se-Pulau Kalimantan pada tahun 2025. Meskipun nilai produksi masih lebih tinggi dibandingkan Kalimantan Timur, wilayah ini justru mencatatkan penurunan produksi sebesar 11,02% dibandingkan tahun sebelumnya. Secara peringkat nasional, Kalimantan Barat berada di posisi 21, tepat berada satu tingkat dibawah Kalimantan Utara dan satu tingkat di atas peringkat Kalimantan Timur tahun 2025.
Banten
(Baca: Harga Kopi Kontrak Tiga Bulan - US Coffee C Futures Pagi Hari Diperdagangkan 314.65 Pound (Jumat, 31 Juli 2026))
Provinsi Banten mencatatkan lonjakan pertumbuhan produksi cabai rawit paling ekstrem pada tahun 2025, yaitu sebesar 181,41% dibandingkan tahun sebelumnya dengan total produksi mencapai 7612,5 ton. Peringkat wilayah ini secara nasional berada di posisi 22, meskipun nilai pertumbuhan sangat tinggi, posisi ini masih hanya satu tingkat dibawah Kalimantan Timur. Wilayah yang masuk dalam gugus Pulau Jawa ini menunjukkan peningkatan performa produksi yang sangat signifikan dibandingkan seluruh wilayah lain pada daftar perbandingan.
Riau
Provinsi Riau dari wilayah Pulau Sumatera mencatatkan produksi cabai rawit tahun 2025 sebesar 6682,5 ton, dengan pertumbuhan produksi sebesar 6,31% dibandingkan periode tahun sebelumnya. Secara nasional wilayah ini menempati peringkat 24, dua tingkat dibawah posisi Kalimantan Timur. Nilai produksi Riau tercatat sekitar 6,9% lebih rendah dibandingkan total produksi yang dicapai Kalimantan Timur pada tahun pencatatan yang sama.
Kep. Bangka Belitung
Kepulauan Bangka Belitung mencatatkan produksi cabai rawit tahun 2025 sebesar 6251,7 ton dengan pertumbuhan sebesar 4,03% dibandingkan tahun sebelumnya. Wilayah Sumatera ini berada di peringkat 25 secara nasional, tiga tingkat dibawah posisi Kalimantan Timur. Nilai produksi wilayah ini tercatat sekitar 12,9% lebih rendah dibandingkan total produksi Kalimantan Timur pada periode pencatatan tahun 2025.
Maluku Utara
Maluku Utara menempati peringkat 26 secara nasional dengan nilai produksi cabai rawit tahun 2025 sebesar 5695,5 ton, namun mencatatkan pertumbuhan produksi sebesar 41,07% yang merupakan pertumbuhan tertinggi kedua setelah Banten pada daftar perbandingan. Meskipun pertumbuhan sangat tinggi, total nilai produksi wilayah ini masih sekitar 20,7% lebih rendah dibandingkan produksi yang dicapai Kalimantan Timur pada tahun 2025.