Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Garis Kemiskinan Makanan dan Nonmakanan Provinsi Kepulauan Riau pada semester terakhir 2025 (31 Desember 2025) sebesar Rp832.410 per kapita per bulan. Nilai ini menunjukkan pertumbuhan 5,74% dibanding semester sebelumnya (Rp787.211), dengan selisih kenaikan sebesar Rp45.199. Dibandingkan rata-rata tiga semester terakhir (2023-2025) sebesar Rp787.382 per kapita per bulan, nilai semester terakhir lebih tinggi, namun pertumbuhannya sedikit lebih rendah dari rata-rata pertumbuhan tiga semester terakhir (sekitar 6,77%). Dibandingkan rata-rata lima semester terakhir (2021-2025) sebesar Rp737.728 per kapita per bulan, nilai semester terakhir juga lebih tinggi, dengan pertumbuhan sedikit lebih rendah dari rata-rata pertumbuhan lima semester terakhir (sekitar 6,70%). Kenaikan tertinggi terjadi pada periode 2009-2010 dengan pertumbuhan 20,33%, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada periode 2010-2011 dengan pertumbuhan -3,49%.
(Baca: Garis Kemiskinan Makanan dan Nonmakanan Periode 2013-2025)
Pada semester terakhir 2025, Kepulauan Riau menempati peringkat 2 di pulau Sumatera, sama seperti semester sebelumnya. Secara nasional, peringkatnya adalah 5, turun satu peringkat dari semester sebelumnya (peringkat 6 pada 2024). Nilai garis kemiskinan Kepulauan Riau di semester terakhir ini lebih rendah dibanding Kepulauan Bangka Belitung (peringkat 1 di Sumatera), namun tetap berada di posisi teratas kedua di pulau tersebut.
Kepulauan Bangka Belitung
Kepulauan Bangka Belitung menempati peringkat 1 se-Indonesia dan peringkat 1 di pulau Sumatera untuk Garis Kemiskinan Makanan dan Nonmakanan pada semester terakhir 2025, dengan nilai sebesar Rp956.833 per kapita per bulan. Nilai ini menunjukkan pertumbuhan 5,33% dibanding semester sebelumnya (Rp908.397), dengan selisih kenaikan sebesar Rp48.436. Dibandingkan dua semester sebelumnya (Rp874.204), nilai semester terakhir meningkat sebesar Rp82.629. Peringkatnya tetap stabil sebagai yang tertinggi di pulau Sumatera dan nasional selama semester terakhir ini.
Kalimantan Utara
Kalimantan Utara menempati peringkat 2 se-Indonesia dan peringkat 1 di pulau Kalimantan untuk Garis Kemiskinan Makanan dan Nonmakanan pada semester terakhir 2025, dengan nilai sebesar Rp884.970 per kapita per bulan. Pertumbuhan nilai ini sebesar 3,59% dibanding semester sebelumnya (Rp854.294), dengan selisih kenaikan Rp30.676. Dibandingkan dua semester sebelumnya (Rp817.876), nilai semester terakhir meningkat sebesar Rp67.094. Peringkatnya sebagai tertinggi di Kalimantan tetap tidak berubah dibanding periode sebelumnya.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Ketapang | 2004 - 2024)
Kalimantan Timur
Kalimantan Timur menempati peringkat 3 se-Indonesia dan peringkat 2 di pulau Kalimantan untuk Garis Kemiskinan Makanan dan Nonmakanan pada semester terakhir 2025, dengan nilai sebesar Rp866.193 per kapita per bulan. Pertumbuhan nilai ini sebesar 3,87% dibanding semester sebelumnya (Rp833.955), dengan selisih kenaikan Rp32.238. Dibandingkan dua semester sebelumnya (Rp790.186), nilai semester terakhir meningkat sebesar Rp76.007. Peringkatnya di Kalimantan berada di bawah Kalimantan Utara, namun tetap di peringkat 3 nasional.
DKI Jakarta
DKI Jakarta menempati peringkat 4 se-Indonesia dan peringkat 1 di pulau Jawa untuk Garis Kemiskinan Makanan dan Nonmakanan pada semester terakhir 2025, dengan nilai sebesar Rp852.768 per kapita per bulan. Pertumbuhan nilai ini sebesar 3,33% dibanding semester sebelumnya (Rp825.288), dengan selisih kenaikan Rp27.480. Dibandingkan dua semester sebelumnya (Rp792.515), nilai semester terakhir meningkat sebesar Rp60.253. Sebagai provinsi dengan garis kemiskinan tertinggi di Jawa, DKI Jakarta tetap mempertahankan peringkat 4 nasional pada periode ini.
Kepulauan Riau
Kepulauan Riau menempati peringkat 5 se-Indonesia dan peringkat 2 di pulau Sumatera untuk Garis Kemiskinan Makanan dan Nonmakanan pada semester terakhir 2025, dengan nilai sebesar Rp832.410 per kapita per bulan. Pertumbuhan nilai ini sebesar 5,74% dibanding semester sebelumnya (Rp787.211), dengan selisih kenaikan Rp45.199. Dibandingkan dua semester sebelumnya (Rp742.526), nilai semester terakhir meningkat sebesar Rp89.884. Peringkatnya di Sumatera berada di bawah Kepulauan Bangka Belitung, dan secara nasional berada di posisi kelima, menunjukkan nilai garis kemiskinan yang lebih rendah dibanding empat provinsi lainnya dalam perbandingan ini.