Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Persentase Angkatan Kerja terhadap Jumlah Penduduk Usia Kerja Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2026 mencapai 73,90 Persen. Nilai ini merupakan angka tertinggi sepanjang periode data sejak 2008, mengalami kenaikan sebesar 0,73 Persen dibandingkan tahun 2025. Sepanjang 19 tahun periode pencatatan, data menunjukkan tren naik secara umum dengan fluktuasi dimana angka bergerak antara 67,59 Persen hingga 73,90 Persen selama periode pengamatan.
(Baca: Data 2024: Jumlah Perceraian Jawa Barat 33,26 Ribu Kasus)
Rata-rata pertumbuhan indikator ini selama 3 tahun terakhir mencapai 0,72 Persen per tahun, angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir yang sebesar 1,28 Persen per tahun. Sementara rata-rata pertumbuhan keseluruhan periode hanya 0,21 Persen per tahun, menunjukkan akselerasi peningkatan partisipasi angkatan kerja di wilayah ini terjadi pada setengah dekade terakhir. Pada tahun 2026, Jawa Tengah menempati peringkat ke-3 di lingkup Pulau Jawa dan peringkat ke-8 secara nasional.
Kenaikan tertinggi indikator ini terjadi pada tahun 2022 dengan peningkatan sebesar 2,66 Persen dari tahun sebelumnya, sementara penurunan terdalam tercatat pada tahun 2009 sebesar 3,88 Persen. Terdapat anomali stagnan pada tahun 2020 dimana nilai indikator tidak mengalami perubahan sama sekali dibandingkan tahun 2019. Dari seluruh periode pencatatan, terdapat 10 kali periode kenaikan, 7 kali periode penurunan dan 1 kali periode stagnan.
Nilai tahun 2026 tercatat berada di atas rata-rata keseluruhan periode sebesar 70,99 Persen. Selama 5 tahun terakhir, peringkat Jawa Tengah di tingkat nasional sempat menyentuh posisi 6 pada tahun 2023 dan 2024, sebelum kembali turun ke posisi 8 hingga tahun 2026. Di lingkup pulau Jawa, peringkat wilayah ini juga sempat menempati urutan pertama sebanyak 3 kali sepanjang periode pengamatan sebelum menetap di urutan ketiga sejak tahun 2024.
Jawa Timur
Jawa Timur menempati posisi pertama peringkat di Pulau Jawa untuk indikator ini pada tahun terakhir, dengan nilai akhir mencapai 74,78 Persen. Wilayah ini mencatat kenaikan sebesar 0,53 Persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 0,71 Persen. Secara nasional Jawa Timur menempati peringkat ke-5, unggul 3 peringkat dibandingkan Jawa Tengah dan memiliki selisih nilai sebesar 0,88 Persen di atas catatan Jawa Tengah tahun 2026.
DI Yogyakarta
DI Yogyakarta mencatatkan nilai indikator sebesar 74,52 Persen pada tahun terakhir, menempati posisi kedua di Pulau Jawa. Wilayah ini mengalami kenaikan sebesar 0,79 Persen dibandingkan tahun sebelumnya dengan pertumbuhan tahunan 1,07 Persen. Secara nasional DI Yogyakarta berada di peringkat ke-7, hanya terpaut satu peringkat di atas Jawa Tengah dengan selisih nilai sebesar 0,62 Persen lebih tinggi dari catatan Jawa Tengah.
(Baca: Update 2026: Jumlah Penduduk Miskin di Sumatera Selatan 869,97 Ribu Jiwa)
Bali
Bali menempati peringkat ke-3 wilayah Nusa Tenggara dan Bali dengan nilai indikator tahun terakhir sebesar 74,63 Persen. Wilayah ini mengalami penurunan sebesar 2,77 Persen dibandingkan tahun sebelumnya dengan pertumbuhan negatif sebesar 3,58 Persen. Secara nasional Bali menempati peringkat ke-6, dua peringkat di atas Jawa Tengah meskipun mengalami penurunan nilai yang cukup besar pada periode pencatatan terakhir.
Sulawesi Barat
Sulawesi Barat menjadi provinsi dengan peringkat pertama di seluruh wilayah Pulau Sulawesi, mencatatkan nilai indikator sebesar 73,75 Persen pada tahun terakhir. Wilayah ini mengalami kenaikan sebesar 1,94 Persen dibandingkan tahun sebelumnya dengan pertumbuhan tahunan sebesar 2,70 Persen. Secara nasional Sulawesi Barat berada di peringkat ke-9, tepat satu peringkat di bawah Jawa Tengah dengan selisih nilai hanya 0,15 Persen di bawah catatan Jawa Tengah tahun 2026.
Sumatera Barat
Sumatera Barat menempati posisi pertama peringkat di seluruh Pulau Sumatera dengan nilai indikator tahun terakhir sebesar 71,76 Persen. Wilayah ini mencatat kenaikan sebesar 0,81 Persen dibandingkan tahun sebelumnya dengan pertumbuhan tahunan sebesar 1,14 Persen. Secara nasional Sumatera Barat berada di peringkat ke-10, dua peringkat di bawah Jawa Tengah dengan selisih nilai sebesar 2,14 Persen lebih rendah dari catatan Jawa Tengah pada tahun 2026.
Papua Barat
Papua Barat menempati peringkat ke-3 wilayah Papua dengan nilai indikator tahun terakhir sebesar 71,12 Persen. Wilayah ini mengalami penurunan sedikit sebesar 0,33 Persen dibandingkan tahun sebelumnya dengan pertumbuhan negatif sebesar 0,46 Persen. Secara nasional Papua Barat berada di peringkat ke-11, tiga peringkat di bawah Jawa Tengah dengan selisih nilai sebesar 2,78 Persen lebih rendah dari catatan Jawa Tengah tahun 2026.