Setiap tahun, Indonesia biasa mengimpor bahan bakar minyak (BBM) untuk mesin diesel atau minyak solar.
Namun, volume impornya berkurang pada 2025, menandai pengurangan impor solar pertama dalam lima tahun terakhir.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2025, Indonesia mengimpor BBM diesel atau minyak solar 5,29 juta ton, berkurang 25% dibanding 2024 (year-on-year/yoy).
Seiring dengan itu, nilai impornya berkurang 32% (yoy) menjadi US$3,49 miliar pada 2025, seperti terlihat pada grafik.
Angka-angka tersebut merupakan gabungan impor komoditas dengan kode HS 27101971 (bahan bakar kendaraan bermesin diesel) dan 27101972 (bahan bakar diesel lainnya).
(Baca: Volume Impor Minyak Indonesia Bertambah pada 2025)
Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia bisa mengurangi impor solar pada 2025 berkat program mandatori biodiesel B40, yakni bahan bakar nabati hasil campuran 40% minyak sawit dan 60% minyak solar.
"Capaian ini menjadi fondasi kuat bagi pemerintah untuk mencanangkan target ambisius, yakni menghentikan sepenuhnya impor solar pada tahun 2026," kata Kementerian ESDM dalam siaran pers (8/1/2026).
"Optimisme bebas impor solar di tahun 2026 akan didorong dengan beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang akan meningkatkan kapasitas produksi solar dalam negeri secara masif," lanjutnya.
Namun, Kementerian ESDM memberi catatan khusus untuk BBM solar tipe CN51 yang memiliki kualitas tinggi untuk kebutuhan industri alat berat.
"Opsi impor [CN51] masih terbuka terbatas karena kapasitas produksi domestik yang masih dalam tahap pengembangan," kata Kementerian ESDM.
(Baca: Kebutuhan BBM Indonesia 2 Kali Lebih Besar dari Kapasitas Produksi Dalam Negeri)