Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, dilatarbelakangi tuduhan bahwa Iran mengembangkan program nuklir.
Iran kemudian meluncurkan serangan balasan ke Israel dan pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah, dan aksi saling serang pun berlanjut sampai sekarang.
(Baca: 13 Hari Perang AS-Israel vs Iran, 2.000 Orang Tewas)
Perang AS-Israel versus Iran memicu kenaikan harga minyak mentah global, terutama setelah Iran memblokade Selat Hormuz, jalur ekspor minyak utama dari Timur Tengah.
Hal ini berimbas pada naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) di banyak negara. Berdasarkan data Global Petrol Prices, negara yang paling terdampak adalah Vietnam.
Setelah sepekan perang berlangsung (9 Maret 2026), harga BBM jenis bensin di Vietnam tercatat sudah naik 50% dibanding sepekan sebelum perang (23 Februari 2026).
Dalam periode serupa, kenaikan harga bensin yang signifikan juga tercatat di Nigeria, Laos, Pakistan, Kamboja, Maladewa, Australia, AS, Singapura, dan berbagai negara lainnya, seperti terlihat pada grafik.
(Baca: Jika Selat Hormuz Tutup, Pasokan Minyak Global Terganggu)
Menurut Global Petrol Prices, kenaikan harga minyak global menimbulkan dampak yang bervariasi di setiap negara, bergantung pada kebijakan pemerintah masing-masing.
"Di negara-negara dengan pasar bahan bakar yang liberal, penyesuaian harga BBM biasanya lebih cepat," kata Global Petrol Prices di situs webnya, dikutip 13 Maret 2026.
"Di negara-negara dengan harga BBM yang diatur, biasanya pemerintah menunggu beberapa pekan untuk menentukan apakah perubahan harga minyak bersifat permanen, sebelum menyesuaikan harga ritel. Jika guncangannya besar, pemerintahnya juga mungkin melakukan intervensi untuk menekan kenaikan harga," lanjutnya.
Adapun Indonesia, sebagai salah satu negara yang harga BBM-nya diatur pemerintah, memiliki persentase kenaikan harga bensin yang tergolong rendah selama periode 23 Februari-9 Maret 2026, yakni hanya 2,8%.
Global Petrol Prices menghimpun data harga BBM ini dari kementerian/lembaga pemerintah, perusahaan minyak internasional, serta pemberitaan media massa di setiap negara.
(Baca: Iran Terus Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Tembus US$100 per Barel)