Menurut laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), bauran energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia mencapai 15,75% pada 2025.
Bauran EBT ini naik 1,1 poin persentase dibanding 2024, serta menjadi rekor tertinggi dalam sedekade terakhir.
"Sebenarnya penambahan EBT ini cukup besar di tahun 2025, tapi kalau dikonversi menjadi turun persentasenya, karena ada penambahan [pembangkit] dari gas dan batu bara," kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers, Jumat (9/1/2026).
(Baca: Investasi EBT di Indonesia Kalah dari Migas dan Minerba sampai 2025)
Pada 2025, realisasi kapasitas terpasang pembangkit EBT di Indonesia mencapai 15.630 megawatt.
Sekitar 49% di antaranya berasal dari pembangkit tenaga air, 20% dari bioenergi, 18% panas bumi, dan 10% tenaga surya.
Kemudian 3% berasal dari pembangkit berbasis gasifikasi batu bara, 1% tenaga angin, 0,2% tenaga sampah, dan 0,1% lain-lainnya.
Adapun dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang dirilis pada Juni 2025, pemerintah memproyeksikan batu bara akan tetap mendominasi bauran energi listrik Indonesia sampai 2034.
(Baca: Proyeksi Bauran Energi Listrik Indonesia 2025-2034, Batu Bara Tetap Mendominasi)