Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengalami inflasi tahunan 2,42% (year-on-year/yoy) pada April 2026. Laju inflasi ini menurun dibanding Maret 2026 yang mencapai 3,48% (yoy).
Berikut daftar kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi atau kenaikan harga secara tahunan pada April 2026, diurutkan dari yang inflasinya tertinggi:
- Perawatan pribadi dan jasa lainnya: 11,43% (yoy)
- Makanan, minuman, dan tembakau: 3,06% (yoy)
- Penyediaan makanan dan minuman/restoran: 1,93% (yoy)
- Transportasi: 1,61% (yoy)
- Kesehatan: 1,49% (yoy)
- Rekreasi, olahraga, dan budaya: 1,19% (yoy)
- Pendidikan: 1,14% (yoy)
- Informasi, komunikasi, dan jasa keuangan: 0,83% (yoy)
- Pakaian dan alas kaki: 0,79% (yoy)
- Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga: 0,74% (yoy)
- Perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga: 0,60% (yoy)
Komoditas yang mengalami inflasi atau kenaikan harga tahunan pada April 2026 adalah beras, daging ayam ras, minyak goreng, telur ayam ras, jeruk, tomat, daging sapi, ikan segar, sigaret kretek tangan (SKT), sigaret kretek mesin (SKM), sigaret putih mesin (SPM), dan bahan bakar rumah tangga.
Inflasi tahunan juga terjadi pada harga sewa rumah, tarif angkutan udara, mobil, tarif pulsa ponsel, uang sekolah, nasi dengan lauk, dan emas perhiasan.
Sedangkan komoditas yang mengalami deflasi atau penurunan harga tahunan pada April 2026 adalah cabai merah, bawang putih, bawang merah, cabai rawit, kentang, kelapa, daging babi, wortel, sabun detergen bubuk, pengharum cucian/pelembut, pembersih lantai, bensin, tarif angkutan antarkota, dan uang sekolah SMA.
Pada April 2026, seluruh atau 38 provinsi Indonesia mengalami inflasi tahunan. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat dengan laju 5% (yoy) dan terendah di Lampung 0,53% (yoy).
(Baca: Proyeksi Inflasi 2026 Negara Asia Tenggara Versi ADB)