Produk domestik bruto (PDRB) harga berlaku (ADHB) di Kabupaten Sarolangun, pada 2023 tercatat Rp21,51 triliun. PDRB di kabupaten/kota ini tumbuh 4,02% dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp20,77 triliun .
Dibandingkan dengan masa pandemi covid pada tahun 2020, pertumbuhan ekonomi di wilayah ini terlihat lebih tinggi. Sebelumnya pertumbuhan pada akhir tahun 2020 pasca covid tercatat turun 0,25%.
Menurut publikasi BPS, dengan total penduduk yang mencapai 302,99 ribu jiwa, PDRB per kapita di wilayah ini tercatat Rp71.160 ribu/kapita/tahun. PDRB per kapita ini secara nasional berada di urutan 122.
Dari 17 sektor yang mendorong pergerakan ekonomi di kabupaten/kota ini, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menjadi unggulan.
Di urutan pertama yakni sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Pada 2023 lalu, sektor ini memberikan kontribusi PDRB terbesar dengan nilai mencapai Rp6,24 jutajuta. PDRB ini tumbuh 5,39%.
Kemudian sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 0,82% menjadi Rp5,43 jutajuta, sektor konstruksi dengan PDRB Rp2,65 jutajuta (5,08%).
Terakhir, PDRB di Kabupaten Sarolangun, untuk urutan lima besar adalah administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib dengan nilai Rp995,94 ribujuta. Menurut BPS, sektor ini selama setahun terakhir berhasil tumbuh 3,21% dari capaian sebelumnya yang tercatat Rp953,09 ribujuta.
Distribusi PDRB di Kabupaten Sarolangun pada 2023
Menurut tingkat distribusinya, sektor utama yang menyumbang pertumbuhan terbesar PDRB di Kabupaten Sarolangun ini adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan kontribusi mencapai 32,73%. Sektor lainnya diurutan lima besar adalah sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, sektor konstruksi, sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, dan sektor informasi dan komunikasi.
Sedangkan untuk sektor dengan distribusi terkecil adalah Sektor Jasa Lainnya,Sektor Real Estate,Sektor Jasa Perusahaan,Sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang dan Sektor Pengadaan Listrik dan Gas.