701 Hotspot Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Rabu, 1 Juli 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 701 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 87 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Rabu (1/7/2026) pukul 11.53 WIB. Dari 701 titik panas terdeteksi, 10 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 635 titik skala sedang, dan 56 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Jumlah Rumah Rusak akibat Banjir dan Longsor Sumatra (17 Desember 2025))
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Jawa Timur sebanyak 122 titik. Kalimantan Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 80 titik. Nusa Tenggara Timur berada di posisi ketiga sebanyak 61 titik panas.
Sebanyak 52 titik panas terdeteksi di Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah menyusul dengan 43 titik panas, serta Jawa Tengah dan Maluku Utara masing-masing memiliki 39 dan 34 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Update Jumlah Fasilitas Rusak karena Banjir dan Longsor Sumatra (11 Desember 2025))
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Mei) | 3,08% | +0.66 | |
| Inflasi mom (Mei) | 0,28% | +0.15 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Des) | 7,50% | -0.75 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.947 | +0.38 | |
| PDB ADHK (Q1) | 3.447,70 | -0.77 | |
| Neraca perdagangan (Apr) | 89,10 | -97.32 | |
| Ekspor Migas (Apr) | 1,16 | -9.81 | |
| Impor Migas (Apr) | 4,60 | +45.09 | |
| Ekspor (Apr) | 25,30 | +12.32 | |
| Impor (Apr) | 25,21 | +31.28 | |
| Kunjungan Wisman (Apr) | 1,25 | +14.75 | |
| NTP (Mei) | 113,79 | +1.34 |