KLHK: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 1.708 Dalam 24 Jam Terakhir (Jumat, 1 Agustus 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 1.708 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 901 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (1/8/2025) pukul 11.12 WIB. Dari 1.708 titik panas terdeteksi, 97 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 1528 titik skala sedang, dan 83 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Kualitas Udara Lampung Rabu Pagi (30/7) Terburuk di Indonesia)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 904 titik. Kalimantan Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 157 titik. Riau berada di posisi ketiga sebanyak 111 titik panas.
Sebanyak 62 titik panas terdeteksi di Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah menyusul dengan 56 titik panas, serta Nusa Tenggara Timur dan Jawa Timur masing-masing memiliki 51 dan 45 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Kualitas Udara Kabupaten Pelalawan Paling Bersih di Indonesia Pagi Ini (28/7))