Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan 2024 Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut. Persentase penduduk miskin naik menjadi 11,8 persen dari 11,5 persen tahun sebelumnya, pertumbuhan 2,61 persen. Jumlah penduduk miskin naik sedikit menjadi 49.210 orang, jumlah penduduk keseluruhan 367.798 jiwa.
(Baca: Jumlah Penduduk Bekerja di Kota Tomohon 47.715 dan Angka Pengangguran 7,79%)
Data historis 2004-2024 menunjukkan persentase kemiskinan tertinggi di 2004 (31,47 persen), terendah di 2022 (11,5 persen). Pertumbuhan terendah di 2008 (-29,56 persen), tertinggi di 2013 (2,53 persen). Rank se-Indonesia 2024 adalah 181, turun dari 201 di 2023.
Rata-rata 3 tahun terakhir (2022-2024) persentase kemiskinan 11,67 persen, lebih rendah dari rata-rata 5 tahun terakhir (2020-2024) 11,82 persen. Ini menunjukkan kondisi kemiskinan di wilayah ini sedikit meningkat dalam jangka panjang.
Dibandingkan tetangga di Sumut, persentase kemiskinan wilayah ini lebih tinggi dari Kab Batu Bara (10,94 persen) dan Kab Samosir (11,63 persen), tapi lebih rendah dari Kota Gunung Sitoli (14,72 persen) dan Kab Nias (14,89 persen).
Kabupaten Batu Bara
Persentase kemiskinan sebesar 10,94 persen, dengan pertumbuhan jumlah penduduk miskin menurun sedikit turun 3,09 persen. Garis kemiskinan di wilayah ini mencapai Rp591.201 per kapita per bulan, atau sekitar Rp7,09 juta per kapita per tahun. Pendapatan per kapita tahunan sebesar Rp10,82 juta, yang berada di urutan ke-72 se-Indonesia. Jumlah penduduk keseluruhan mencapai 465.286 jiwa, dengan pertumbuhan 2,51 persen tahun lalu, dan rank se-Indonesia untuk jumlah penduduk miskinnya adalah urutan ke-162. Kondisi ini menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki pendapatan per kapita yang cukup tinggi dibandingkan tetangga, yang membantu menekan persentase kemiskinan.
Kota Gunung Sitoli
(Baca: BPS: Jumlah Penduduk Miskin di Jawa Tengah Turun 0,65%(Data Desember 2025))
Persentase kemiskinan sebesar 14,72 persen, dengan pertumbuhan jumlah penduduk miskin naik sedikit sebesar 0,59 persen. Garis kemiskinan di wilayah ini adalah Rp493.644 per kapita per bulan, setara dengan Rp5,92 juta per kapita per tahun. Pendapatan per kapita tahunan hanya Rp5,04 juta, berada di urutan ke-259 se-Indonesia. Jumlah penduduk keseluruhan adalah 138.184 jiwa, dengan pertumbuhan 0,33 persen, dan rank se-Indonesia untuk jumlah penduduk miskinnya adalah urutan ke-309. Rendahnya pendapatan per kapita menjadi faktor utama yang menyebabkan persentase kemiskinan yang relatif tinggi di wilayah ini.
Kabupaten Nias
Persentase kemiskinan sebesar 14,89 persen, dengan pertumbuhan jumlah penduduk miskin menurun sedikit turun 1,14 persen. Garis kemiskinan di wilayah ini adalah Rp520.024 per kapita per bulan, atau sekitar Rp6,24 juta per kapita per tahun. Pendapatan per kapita tahunan hanya Rp3,41 juta, yang berada di urutan ke-393 se-Indonesia, menjadi salah satu terendah di wilayah Sumatera Utara. Jumlah penduduk keseluruhan adalah 147.614 jiwa, dengan pertumbuhan 0,73 persen, dan rank se-Indonesia untuk jumlah penduduk miskinnya adalah urutan ke-313. Kondisi ini menunjukkan bahwa wilayah ini masih menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan pendapatan masyarakat untuk menekan kemiskinan.
Kabupaten Samosir
Persentase kemiskinan sebesar 11,63 persen, dengan pertumbuhan jumlah penduduk miskin menurun sedikit turun 0,07 persen. Garis kemiskinan di wilayah ini adalah Rp455.397 per kapita per bulan, setara dengan Rp5,46 juta per kapita per tahun. Pendapatan per kapita tahunan sebesar Rp4,26 juta, berada di urutan ke-311 se-Indonesia. Jumlah penduduk keseluruhan adalah 148.123 jiwa, dengan pertumbuhan 2,87 persen tahun lalu, dan rank se-Indonesia untuk jumlah penduduk miskinnya adalah urutan ke-384. Meskipun pendapatan per kapita rendah, pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi membantu menstabilkan persentase kemiskinan di wilayah ini.
Kota Sibolga
Persentase kemiskinan sebesar 11,39 persen, dengan pertumbuhan jumlah penduduk miskin menurun sedikit turun 0,3 persen. Garis kemiskinan di wilayah ini mencapai Rp612.818 per kapita per bulan, atau sekitar Rp7,35 juta per kapita per tahun. Pendapatan per kapita tahunan sebesar Rp7,85 juta, berada di urutan ke-122 se-Indonesia. Jumlah penduduk keseluruhan adalah 99.747 jiwa, dengan pertumbuhan 2,60 persen, dan rank se-Indonesia untuk jumlah penduduk miskinnya adalah urutan ke-445. Kondisi ini menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki garis kemiskinan yang cukup tinggi, namun pendapatan per kapita yang memadai membantu menekan persentase kemiskinan.
Kota Tanjung Balai
Persentase kemiskinan sebesar 11,97 persen, dengan pertumbuhan jumlah penduduk miskin menurun sedikit turun 0,89 persen. Garis kemiskinan di wilayah ini adalah Rp592.573 per kapita per bulan, setara dengan Rp7,11 juta per kapita per tahun. Pendapatan per kapita tahunan sebesar Rp6,58 juta, berada di urutan ke-165 se-Indonesia. Jumlah penduduk keseluruhan adalah 186.150 jiwa, dengan pertumbuhan 2,63 persen tahun lalu, dan rank se-Indonesia untuk jumlah penduduk miskinnya adalah urutan ke-307. Meskipun persentase kemiskinan sedikit lebih tinggi daripada Kabupaten Tapanuli Tengah, pertumbuhan penduduk miskin yang menurun menunjukkan adanya upaya yang efektif untuk menekan kemiskinan di wilayah ini.