292 Titik Panas Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Jumat, 6 Maret 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 292 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 146 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (6/3/2026) pukul 11.47 WIB. Dari 292 titik panas terdeteksi, 13 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 237 titik skala sedang, dan 42 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Jatibening Masuk ke Daftar 15 Daerah dengan Kualitas Udara Terbaik di Indonesia per September 2023)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 90 titik. Aceh menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 65 titik. Sumatera Utara berada di posisi ketiga sebanyak 39 titik panas.
Sebanyak 26 titik panas terdeteksi di Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat menyusul dengan 9 titik panas, serta Jambi dan Riau masing-masing memiliki 8 dan 8 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Kualitas Udara Jakarta Pagi Ini Terburuk Kedua di Dunia (Jumat, 17 Juni 2022))