Kementerian LHK: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 443 Dalam 24 Jam Terakhir (Rabu, 20 Agustus 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 443 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 563 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Rabu (20/8/2025) pukul 11.54 WIB. Dari 443 titik panas terdeteksi, 10 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 418 titik skala sedang, dan 15 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Gempa Bumi Berkekuatan 4.4 M Guncang Babar, Indonesia)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Nusa Tenggara Timur sebanyak 135 titik. Nusa Tenggara Barat menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 60 titik. Kalimantan Barat berada di posisi ketiga sebanyak 59 titik panas.
Sebanyak 42 titik panas terdeteksi di Kalimantan Timur, Aceh menyusul dengan 41 titik panas, serta Sumatera Utara dan Sumatera Barat masing-masing memiliki 26 dan 24 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.