491 Titik Panas Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Minggu, 19 April 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 491 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 108 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Minggu (19/4/2026) pukul 11.35 WIB. Dari 491 titik panas terdeteksi, 13 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 462 titik skala sedang, dan 16 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Gempa Bumi Berkekuatan 4.1 M Guncang 2 Km Timur Dari Cartago, Kosta)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 92 titik. Maluku Utara menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 64 titik. Sulawesi Tenggara berada di posisi ketiga sebanyak 52 titik panas.
Sebanyak 39 titik panas terdeteksi di Sulawesi Tengah, Maluku menyusul dengan 37 titik panas, serta Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan masing-masing memiliki 35 dan 24 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.