329 Hotspot Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Minggu, 15 Februari 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 329 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 73 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Minggu (15/2/2026) pukul 11.47 WIB. Dari 329 titik panas terdeteksi, 10 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 278 titik skala sedang, dan 41 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Negara dengan Gunung Berapi Aktif Terbanyak di Dunia, Indonesia Pertama)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 112 titik. Riau menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 109 titik. Maluku Utara berada di posisi ketiga sebanyak 37 titik panas.
Sebanyak 30 titik panas terdeteksi di Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung menyusul dengan 17 titik panas, serta Kalimantan Timur dan Papua masing-masing memiliki 11 dan 4 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Tren Letusan Gunung Berapi dalam Beberapa Tahun Terakhir)