Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan tahun 2024 untuk Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, yang menunjukkan persentase penduduk miskin sedikit turun menjadi 9,31 persen dari 9,58 persen tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan -2,82 persen. Jumlah penduduk miskin turun sedikit 1.520 orang menjadi 84.360 orang, sementara jumlah penduduk naik 2,7 persen menjadi 866.909 jiwa. Posisi rank seindonesia persentase kemiskinan berada di urutan ke-259, dan urutan ke-73 di Pulau Sumatera.
(Baca: Persentase Penduduk Miskin di Perdesaan Periode 2013-2025)
Data historis kemiskinan periode 2004-2024 menunjukkan persentase kemiskinan tertinggi di tahun 2004 sebesar 20,86 persen dan terendah di tahun 2024 sebesar 9,31 persen. Pertumbuhan kemiskinan terendah terjadi di tahun 2008 (-13,21 persen) dan tertinggi di tahun 2013 (8,96 persen). Rata-rata 3 tahun terakhir sebesar 9,63 persen, rata-rata 5 tahun terakhir sebesar 10,03 persen, sehingga kondisi 2024 lebih baik dari kedua rata-rata. Rank seindonesia terus bergeser ke arah lebih baik dari urutan ke-156 di 2004 ke ke-259 di 2024.
Kabupaten Muara Enim
Persentase kemiskinan berada di urutan ke-244 se-Indonesia, sebesar 9,79 persen dengan pertumbuhan -10,43 persen. Jumlah penduduk miskin sebesar 66.420 orang, turun cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, sementara jumlah penduduk mencapai 645.250 jiwa dengan pertumbuhan 1,46 persen. Garis kemiskinan di wilayah ini sebesar 491,11 ribu rupiah per kapita per bulan, sedikit lebih tinggi dari Kabupaten Banyuasin. Pendapatan per kapita mencapai 182,11 juta rupiah per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Banyuasin, yang menjadi salah satu faktor mengapa meskipun persentase kemiskinan sedikit lebih tinggi, jumlah penduduk miskinnya lebih sedikit.
Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan di Maluku 2015 - 2024)
Persentase kemiskinan berada di urutan ke-246 se-Indonesia, sebesar 9,75 persen dengan pertumbuhan -2,4 persen. Jumlah penduduk miskin sebesar 68.740 orang, turun sedikit dibandingkan tahun sebelumnya, dan jumlah penduduk mencapai 690.282 jiwa dengan pertumbuhan 1,59 persen. Garis kemiskinan di wilayah ini sebesar 434,53 ribu rupiah per kapita per bulan, lebih rendah dari Kabupaten Banyuasin. Pendapatan per kapita hanya mencapai 31,50 juta rupiah per tahun, jauh lebih rendah dibandingkan Kabupaten Banyuasin, yang membuat persentase kemiskinan yang sedikit lebih tinggi menjadi hal yang wajar karena kapasitas ekonomi masyarakat lebih rendah.
Kota Pagar Alam
Persentase kemiskinan berada di urutan ke-302 se-Indonesia, sebesar 8,18 persen dengan pertumbuhan -7,88 persen, posisi yang lebih baik dibandingkan Kabupaten Banyuasin. Jumlah penduduk miskin sebesar 11.820 orang, turun cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, dan jumlah penduduk mencapai 151.943 jiwa dengan pertumbuhan 1,73 persen. Garis kemiskinan di wilayah ini sebesar 427,01 ribu rupiah per kapita per bulan, lebih rendah dari Kabupaten Banyuasin. Pendapatan per kapita hanya mencapai 25,54 juta rupiah per tahun, jauh lebih rendah dibandingkan Kabupaten Banyuasin, namun persentase kemiskinan lebih rendah karena jumlah penduduk yang jauh lebih kecil sehingga distribusi sumber daya lebih mudah dilakukan.
Kota Palembang
Persentase kemiskinan berada di urutan ke-245 se-Indonesia, sebesar 9,77 persen dengan pertumbuhan -4,4 persen. Jumlah penduduk miskin sebesar 173.590 orang, jumlah terbanyak di antara wilayah yang dibandingkan, dan jumlah penduduk mencapai 1,78 juta jiwa dengan pertumbuhan 1,15 persen. Garis kemiskinan di wilayah ini sebesar 660,93 ribu rupiah per kapita per bulan, jauh lebih tinggi dari Kabupaten Banyuasin. Pendapatan per kapita mencapai 121,15 juta rupiah per tahun, lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Banyuasin, sehingga meskipun jumlah penduduk miskin terbanyak, persentase kemiskinan hanya sedikit lebih tinggi karena jumlah penduduk yang sangat besar.