Kementerian LHK Deteksi 1.326 Titik Panas di Indonesia, Terbanyak di Nusa Tenggara Timur (Sabtu, 4 Oktober 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 1.326 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 847 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Sabtu (4/10/2025) pukul 11.53 WIB. Dari 1.326 titik panas terdeteksi, 54 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 1129 titik skala sedang, dan 143 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Indikasi Luas Karhutla di Provinsi Kalimantan Barat 2016-2025)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Nusa Tenggara Timur sebanyak 520 titik. Nusa Tenggara Barat menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 138 titik. Sulawesi Tenggara berada di posisi ketiga sebanyak 112 titik panas.
Sebanyak 98 titik panas terdeteksi di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat menyusul dengan 71 titik panas, serta Jawa Timur dan Sulawesi Tengah masing-masing memiliki 60 dan 56 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Hampir 5 Ribu Kejadian Bencana Alam di Indonesia Sepanjang 2023, Karhutla Mendominasi)