Gunung Ili Lewotolok Erupsi pada Jumat Pagi, Statusnya Waspada
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur kembali erupsi pada Jumat (16/1/2026) pukul 10.10 WITA. Dalam sepekan terakhir, Gunung Ili Lewotolok hanya sekali erupsi.
Melansir informasi letusan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui aplikasi MAGMA Indonesia, tinggi kolom abu teramati sekitar 350 meter di atas puncak atau 1.773 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal ke arah timur. Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 32,1 milimeter dan durasi 48 detik.
(Baca: Banjir, Bencana Alam yang Banyak Melanda Indonesia per September 2025)
Menurut laporan aktivitas gunung api MAGMA Indonesia, tingkat aktivitas Gunung Ili Lewotolok di Level II (Waspada). Pengamatan kegempaan pada 16 Januari 2026 pukul 00.00-23.59 WITA menunjukkan terjadi 390 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 16,6-36,5 milimeter dan lama gempa 30-110 detik.
Kemudian, 456 kali gempa hembusan dengan amplitudo 3,7-20,7 milimeter dan lama gempa 30-60 detik serta 27 kali tremor non-harmonik dengan amplitudo 4,7-22,2 milimeter dan lama gempa 100-210 detik.
PVMBG menghimbau masyarakat di sekitar Gunung Ili Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak memasuki dan tidak melakukan aktivitas di dalam wilayah radius 2 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Ili Lewotolok, serta sektoral selatan-tenggara dan barat sejauh 2,5 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Ili Lewotolok.
Selama tahun 2026, MAGMA Indonesia telah merekam 223 letusan/erupsi gunung api di seluruh Indonesia. Gunung Semeru di Jawa Timur paling banyak erupsi (128 kali letusan) sedangkan Gunung Ili Lewotolok erupsi 8 kali.
(Baca: Jumlah Korban Menderita-Mengungsi karena Bencana Alam di Indonesia 2015-2024)