Kementerian LHK: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 54 Dalam 24 Jam Terakhir (Senin, 5 Januari 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 54 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 26 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Senin (5/1/2026) pukul 11.36 WIB. Dari 54 titik panas terdeteksi, 54 titik skala sedang.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Data Jumlah Rumah Terendam Akibat Bencana Alam di RI pada 2014-2014)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Maluku Utara sebanyak 16 titik. Nusa Tenggara Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 14 titik. Sulawesi Tengah berada di posisi ketiga sebanyak 6 titik panas.
Sebanyak 6 titik panas terdeteksi di Sulawesi Selatan, Riau menyusul dengan 3 titik panas, serta Jambi dan Jawa Tengah masing-masing memiliki 2 dan 2 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Hampir 5 Ribu Kejadian Bencana Alam di Indonesia Sepanjang 2023, Karhutla Mendominasi)