Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan Kota Jakarta Pusat tahun 2024, di mana persentase penduduk miskin turun sedikit dari 4,68 persen menjadi 4,63 persen. Jumlah penduduk miskin juga turun sedikit 1,05 persen menjadi 42.330 orang, sementara jumlah penduduk turun 3,32 persen menjadi 1.072.639 jiwa.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Periode 2004 - 2024)
Rata-rata persentase kemiskinan Kota Jakarta Pusat selama 3 tahun terakhir (2022-2024) adalah 4,74 persen, hampir sama dengan rata-rata 5 tahun terakhir (2020-2024) sebesar 4,73 persen. Persentase kemiskinan terendah di 2005 (3,17 persen), tertinggi di 2021 (4,94 persen). Pertumbuhan terendah di 2005 (-18,93 persen), tertinggi di 2006 (55,21 persen). Rank seindonesia tahun 2024 adalah 454, naik dari 460 tahun sebelumnya tapi turun dari 453 tahun 2022.
Kota Jakarta Barat
Rank seindonesia persentase kemiskinan berada di urutan ke-485, lebih baik dari Kota Jakarta Pusat. Persentase kemiskinan sebesar 3,94 persen, turun sedikit 3,67 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah penduduk miskin mencapai 106.480 orang, dengan jumlah penduduk sebesar 2.578.352 jiwa. Garis kemiskinan di wilayah ini adalah 685,07 ribu rupiah per kapita per bulan, sedangkan pendapatan per kapita mencapai 253,22 juta rupiah per tahun. Pertumbuhan penduduk turun sedikit 1,44 persen, lebih kecil dibandingkan penurunan penduduk Kota Jakarta Pusat, sehingga jumlah penduduknya masih lebih besar tiga kali lipat dari Kota Jakarta Pusat.
Kota Jakarta Selatan
Urutan rank seindonesia persentase kemiskinan di urutan ke-505, yang merupakan posisi terbaik di antara kabupaten kota di DKI Jakarta. Persentase kemiskinan sebesar 3,03 persen, turun sedikit 2,26 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah penduduk miskin adalah 70.600 orang, dengan jumlah penduduk sebesar 2.359.008 jiwa. Garis kemiskinan tertinggi di DKI Jakarta, yaitu 928,28 ribu rupiah per kapita per bulan, dan pendapatan per kapita tertinggi di wilayah ini sebesar 381,19 juta rupiah per tahun. Pertumbuhan penduduk turun sedikit 2,05 persen, menunjukkan penurunan jumlah penduduk yang lebih kecil dibandingkan Kota Jakarta Pusat.
(Baca: Rata-Rata Upah atau Gaji Bersih Sebulan Pekerja Formal Pengadaan Listrik dan Gas Periode 2015-2025)
Kota Jakarta Timur
Rank seindonesia persentase kemiskinan berada di urutan ke-476, lebih baik dari Kota Jakarta Pusat. Persentase kemiskinan sebesar 4,09 persen, turun sedikit 2,62 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah penduduk miskin mencapai 121.520 orang, dengan jumlah penduduk terbesar di DKI Jakarta yaitu 3.254.977 jiwa. Garis kemiskinan sebesar 697,47 ribu rupiah per kapita per bulan, dan pendapatan per kapita sebesar 204,34 juta rupiah per tahun. Pertumbuhan penduduk turun sedikit 1,67 persen, yang lebih kecil dibandingkan penurunan penduduk Kota Jakarta Pusat, sehingga jumlah penduduknya masih tiga kali lipat lebih besar dari Kota Jakarta Pusat.
Kota Jakarta Utara
Urutan rank seindonesia persentase kemiskinan di urutan ke-385, lebih buruk dari Kota Jakarta Pusat. Persentase kemiskinan sebesar 6,44 persen, turun sedikit 5,01 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah penduduk miskin mencapai 120.510 orang, dengan jumlah penduduk sebesar 1.839.801 jiwa. Garis kemiskinan sebesar 712,84 ribu rupiah per kapita per bulan, dan pendapatan per kapita sebesar 369,12 juta rupiah per tahun. Pertumbuhan penduduk turun sedikit 1,93 persen, yang lebih kecil dibandingkan penurunan penduduk Kota Jakarta Pusat, sehingga jumlah penduduknya masih lebih besar dari Kota Jakarta Pusat.
Kabupaten Kepulauan Seribu
Rank seindonesia persentase kemiskinan di urutan ke-145, yang merupakan posisi terburuk di antara kabupaten kota di DKI Jakarta. Persentase kemiskinan sebesar 13,03 persen, turun sedikit 0,76 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah penduduk miskin hanya 3.490 orang, dengan jumlah penduduk terkecil di DKI Jakarta yaitu 30.414 jiwa. Garis kemiskinan sebesar 775,91 ribu rupiah per kapita per bulan, dan pendapatan per kapita sebesar 281,27 juta rupiah per tahun. Pertumbuhan penduduk naik sedikit 0,67 persen, yang berbeda dengan penurunan penduduk di kota-kota lain di DKI Jakarta, menunjukkan peningkatan jumlah penduduk di wilayah ini.