Katadata Insight Center (KIC) merilis laporan Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) dalam acara IDE Katadata Future Forum 2026 di Ballroom Djakarta Theater, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Laporan KIMCI ini berisi hasil riset tentang kondisi, perilaku, dan persepsi kelas menengah, yang dapat menjadi dasar dalam perumusan strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan sosial di Indonesia.
Menurut temuan KIC, salah satu tantangan yang dihadapi kelas menengah Indonesia saat ini adalah sulitnya memiliki hunian.
Mayoritas atau 63% kelas menengah merasa hambatan utamanya adalah faktor ekonomi, seperti harga rumah yang mahal, kenaikan penghasilan tidak sebanding dengan kenaikan harga rumah, uang muka yang tinggi, serta jauhnya lokasi perumahan murah.
Kemudian 57% merasa terhambat karena faktor pribadi, seperti belum ada tuntutan untuk membeli rumah, lebih nyaman tinggal bersama orang tua, atau belum memiliki komitmen.
Ada juga 35% yang merasa terhambat karena persyaratan kredit pemilikan rumah (KPR) yang sulit.
"Mahalnya harga hunian menjadi faktor penghambat utama yang paling dominan. Di sisi lain, keterbatasan akses pembiayaan seperti KPR semakin mempersempit peluang untuk memiliki rumah," kata KIC dalam laporannya.
KIC melakukan survei ini pada kuartal IV 2025-kuartal I 2026 terhadap 1.000 responden kelas menengah, kemudian dikerucutkan menjadi 100 responden yang tidak berencana membeli rumah.
Responden berusia antara 18-60 tahun dengan kisaran pengeluaran Rp2 juta sampai Rp10 juta per kapita per bulan, mengacu pada definisi kelas menengah dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Laporan lengkap Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) dari KIC dapat diunduh di tautan ini.
(Baca: Susah Punya Rumah, Isu Kelas Menengah yang Banyak Dibahas Warganet RI)