Dalam laporan Rencana Strategis Kementerian Kehutanan 2025-2029, pemerintah mencatat fluktuasi nilai ekspor tumbuhan dan satwa liar Indonesia (TSL).
Sepanjang 2020-2024, nilainya cenderung turun. Pada 2020, tercatat sebesar US$10,79 miliar atau sekitar Rp179,72 triliun (asumsi kurs Rp16.657 per US$).
Setahun setelahnya sempat naik signifikan menjadi US$11,79 miliar atau Rp196,38 triliun. Ekspor pada 2021 ini menjadi yang tertinggi selama lima tahun terakhir.
Tahun-tahun berikutnya, nilai ekspor TSL mengalami penurunan. Pada data terakhir 2024 tercatat sebesar US$8,55 miliar atau Rp142,41 triliun.
Dalam renstra ini, pemerintah menyebut Indonesia menjadi negara megabiodiversitas yang memiliki potensi besar dalam pengembangan bioprospeksi, yaitu pemanfaatan TSL untuk menghasilkan nilai tambah ekonomi (added value).
"Pemanfaatan sumber daya genetik untuk bioprospeksi tidak hanya membutuhkan ketersediaan bahan baku tetapi juga penelitian mendalam hingga pemasaran produk akhir," demikian bunyi beleid tersebut.
Sampai 2024, pemerintah telah mengembangkan 44 entitas komoditi bioprospeksi. Pemerintah mencatat nilai ini meningkat signifikan dibandingkan dengan 2023 dengan 19 entitas.
Indonesia juga memiliki 30 hotspot keanekaramagaman hayati yang ditemukan di semua pulau, dengan konsentrasi yang lebih besar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Hotspot keanekaragaman hayati didefinisikan sebagai 30% wilayah nasional yang paling kaya spesies, berdasarkan distribusi spesies vertebrata dalam Daftar Merah IUCN.
Sebanyak 62,3% hotspot keanekaragaman hayati terestrial ditemukan di hutan, yang terpenting ada pada hutan kering primer sebesar 27,5% dan kering sekunder sebesar 17,6%.
Selain itu, 51,3% dari total luas hotspot keanekaragaman hayati berada pada kawasan cagar alam, suaka margasatwa, dan taman nasional.
(Baca: Riwayat Kontribusi Sektor Kehutanan Indonesia terhadap PDB 2015-2024)