- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
International Monetary Fund (IMF) merilis data PDB Paritas Daya Beli Myanmar tahun 2024 tercatat pada angka 504,16 unit. Angka ini menunjukan kenaikan berkelanjutan sejak tahun 2021, setelah sebelumnya mengalami kontraksi pada 2018 yang artinya nilai PDB PPP turun sebesar 6,28% dibanding tahun sebelumnya. Sepanjang tiga tahun terakhir yakni 2022, 2023 dan 2024, pertumbuhan tahunan Myanmar tercatat berturut turut 10,24%, 7,14% dan 3,99%.
Satuan unit dalam data yang disajikan di artikel ini merupakan hasil perhitungan IMF atas nilai PDB harga berlaku mata uang nasional Myanmar terhadap dolar internasional. Dalam Publikasinya, IMF menyebutkan perhitungan digunakan untuk tujuan penyusunan komposit kelompok negara. Data yang dihasilkan ini dikatakan bukan sebagai sumber utama penyajian data paritas daya beli (PPP).
(Baca: Persentase Pengangguran 2025 di Kabupaten Bintan 4,81 Persen)
International Monetary Fund (IMF) mencatat rata-rata pertumbuhan tiga tahun terakhir Myanmar berada di angka 7,12%, sedikit lebih rendah dibanding rata-rata pertumbuhan lima tahun terakhir yang mencapai 7,65%. Hal ini menunjukan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi secara bertahap sejak lonjakan pemulihan ekonomi yang terjadi pada tahun 2021 lalu.
International Monetary Fund (IMF) mencatat puncak kenaikan tertinggi PDB PPP Myanmar terjadi pada tahun 2021 dengan pertumbuhan tahunan sebesar 15,77%, sementara titik terendah sepanjang 10 tahun terakhir tercatat pada tahun 2018 dengan pertumbuhan negatif minus 6,28%. Anomali pertumbuhan sangat tinggi pada 2021 terjadi setelah pemulihan ekonomi pasca guncangan awal pandemi, angka tersebut 3 kali lipat lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan 10 tahun terakhir.
International Monetary Fund (IMF) mencatat peringkat PDB PPP Myanmar di kawasan ASEAN tetap bertahan di posisi 5 secara berturut-turut sejak tahun 2015 sampai dengan 2024. Tidak ada pergeseran peringkat sepanjang 10 tahun terakhir, meskipun terjadi fluktuasi pertumbuhan yang artinya angka kenaikan tahunan bisa berubah sangat drastis dari minus 6% hingga mencapai diatas 15% dalam kurun waktu satu tahun.
International Monetary Fund (IMF) merilis proyeksi PDB PPP Myanmar sampai tahun 2030 akan terus mengalami kenaikan. Pertumbuhan diproyeksikan akan sedikit melambat di tahun 2025 menjadi 3,74% sebelum kembali meningkat secara bertahap hingga mencapai 6,06% pada tahun 2029. Secara keseluruhan proyeksi menunjukan perbaikan stabil setelah penurunan laju pertumbuhan di tahun 2024.
(Baca: PDB Menurut Daya Beli di Guatemala 2024)
International Monetary Fund (IMF) membandingkan posisi Myanmar dengan negara lain di ASEAN, dengan posisi peringkat 5, Myanmar berada tepat dibawah Kamboja yang berada di peringkat 4 dan diatas Thailand yang menempati peringkat 7. Sementara itu pertumbuhan PDB PPP Myanmar tahun 2024 sebesar 3,99% menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi di kawasan ASEAN pada tahun ini, hanya kalah dari Laos yang mencatat pertumbuhan 14,35%.
Meski pertumbuhan terus menunjukkan arah positif, perlambatan laju pertumbuhan sejak tahun 2021 menjadi catatan penting. Pemerintah Myanmar perlu menjaga momentum pemulihan agar proyeksi pertumbuhan sampai tahun 2030 dapat tercapai, mengingat selama 10 tahun terakhir ekonomi negara ini pernah mengalami kontraksi mendalam yang membutuhkan waktu hampir 3 tahun untuk kembali pulih sepenuhnya.
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Jul) | 2,88% | -0.46 | |
| Inflasi mom (Jul) | -0,14% | -0.58 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.868 | +0.05 | |
| PDB ADHK (Q1) | 3.447,70 | -0.77 | |
| Neraca perdagangan (Jun) | -450,50 | -72.02 | |
| Ekspor Migas (Jun) | 1,07 | +40.52 | |
| Impor Migas (Jun) | 4,56 | +0.96 | |
| Ekspor (Jun) | 25,46 | +9.72 | |
| Impor (Jun) | 25,91 | +4.41 | |
| Kunjungan Wisman (Mei) | 1,38 | +10.69 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |