Pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi di Kota Banda Aceh menunjukkan perkembangan yang menarik pada tahun 2024. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pengeluaran mencapai Rp 447.005 per kapita per bulan. Angka ini meningkat 9,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika dibandingkan dengan total pengeluaran rata-rata per kapita sebulan untuk aneka barang dan jasa sebesar Rp 397.296, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi memiliki porsi signifikan. Ini menunjukkan bahwa konsumsi makanan dan minuman jadi menjadi bagian penting dari kebutuhan masyarakat Kota Banda Aceh. Pengeluaran ini juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata pengeluaran untuk kecantikan (Rp 105.289), perawatan (Rp 93.631), rokok dan tembakau (Rp 162.584), serta sabun mandi (Rp 100.106).
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan di Papua 2015 - 2024)
Secara historis, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi di Kota Banda Aceh mengalami fluktuasi. Setelah mengalami kenaikan dari tahun 2018 hingga 2019 (10,9%), sempat mengalami penurunan pada tahun 2020 (-6,5%). Namun, kembali naik pada tahun 2021 (12,9%) sebelum mengalami penurunan tajam pada tahun 2022 (-23,3%). Kemudian kembali meningkat pada tahun 2023 (18,6%) dan 2024 (9,3%). Pengeluaran tertinggi terjadi pada tahun 2021 dengan Rp 449.596 per kapita per bulan.
Pada tahun 2024, Kota Banda Aceh menduduki peringkat pertama dalam pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi di Pulau Sumatera. Juga menduduki peringkat pertama di antara kabupaten/kota se-Provinsi Aceh. Serta menduduki peringkat ke-8 secara nasional. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi makanan dan minuman jadi di Kota Banda Aceh relatif tinggi dibandingkan wilayah lain.
Jika dibandingkan dengan beberapa kabupaten/kota lain di Aceh, Nagan Raya mencatatkan pengeluaran sebesar Rp 381.961 per kapita per bulan dengan pertumbuhan -0,1%. Kota Sabang mencatatkan pengeluaran sebesar Rp 339.726 dengan pertumbuhan 7,5%. Kota Lhokseumawe mencatatkan pengeluaran sebesar Rp 291.914 dengan pertumbuhan -9,2%. Kabupaten Aceh Jaya mencatatkan pengeluaran sebesar Rp 289.551 dengan pertumbuhan 45,7%. Serta Kabupaten Aceh Barat mencatatkan pengeluaran sebesar Rp 274.764 dengan pertumbuhan 6%. Kota Banda Aceh tetap unggul dalam hal pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi.
(Baca: Luas Panen Padi di Kalimantan Timur | 2024)
Kota Lhokseumawe
Pada tahun 2024, pengeluaran bukan makanan di Kota Lhokseumawe mencapai Rp 893.134, mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 43,4% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 622.622,65. Kota ini menduduki peringkat pertama se-Provinsi Aceh dalam hal pengeluaran bukan makanan. Sementara, pengeluaran rata-rata per kapita sebulan untuk makanan adalah Rp 798.985, dan menduduki peringkat ke-7 se-Provinsi Aceh.
Kota Sabang
Pengeluaran bukan makanan di Kota Sabang tercatat sebesar Rp 764.253 pada tahun 2024, meningkat 7,7% dari tahun sebelumnya. Dengan angka ini, Kota Sabang menduduki peringkat kedua dalam hal pengeluaran bukan makanan di antara kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Pengeluaran untuk makanan mencapai Rp 890.314, menempatkan Sabang pada peringkat ketiga di provinsi yang sama.
Kabupaten Bener Meriah
Kabupaten Bener Meriah mencatat pengeluaran bukan makanan sebesar Rp 716.407 pada tahun 2024, meningkat 34,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan pertumbuhan yang tinggi ini, Bener Meriah menduduki peringkat ketiga dalam pengeluaran bukan makanan di Provinsi Aceh. Sementara itu, pengeluaran untuk makanan mencapai Rp 958.426, tertinggi kedua di provinsi tersebut.
Kota Langsa
Pengeluaran bukan makanan di Kota Langsa mencapai Rp 705.067 pada tahun 2024, mengalami penurunan turun 9,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun turun, Langsa tetap menduduki peringkat keempat dalam hal pengeluaran bukan makanan di Provinsi Aceh. Pengeluaran untuk makanan mencapai Rp 699.439, menempatkannya di peringkat ke-14 di provinsi yang sama.