Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat luas panen padi di Kalimantan Timur pada 2024 mencapai 57.082,01 Hektar. Data ini menunjukkan penurunan sebesar 12,14% dibandingkan tahun 2023. Penurunan ini cukup signifikan, mengingat luas panen pada 2023 mencapai 64.970,01 Hektar. Jika dilihat dari data historis, luas panen padi di Kalimantan Timur cenderung fluktuatif dalam tiga dekade terakhir, dengan luas panen tertinggi terjadi pada tahun 2008 sebesar 157.341 Hektar.
Luas panen padi di Kalimantan Timur pada 2024 juga lebih rendah dibandingkan rata-rata luas panen selama tiga tahun terakhir (2022-2024) yaitu 62.773,82 Hektar. Kondisi ini juga lebih rendah dibandingkan rata-rata luas panen selama lima tahun terakhir (2020-2024) yaitu 66.311,03 Hektar. Penurunan ini mengindikasikan adanya tantangan dalam mempertahankan atau meningkatkan produktivitas padi di Kalimantan Timur.
(Baca: Kredit Bank Umum Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum Periode 2015-2025)
Secara ranking di Pulau Kalimantan, Kalimantan Timur menempati urutan ke-4 dalam hal luas panen padi pada tahun 2024. Sementara itu, secara nasional, Kalimantan Timur berada di peringkat ke-23. Dibandingkan tahun sebelumnya, peringkat Kalimantan Timur di tingkat nasional mengalami penurunan, dari peringkat 21 pada tahun 2023.
Kenaikan tertinggi luas panen padi di Kalimantan Timur terjadi pada tahun 2008 dengan peningkatan sebesar 3,28%, sedangkan penurunan terendah terjadi pada tahun 1998 dengan penurunan turun 60,84%. Anomali pada tahun 1998 ini kemungkinan disebabkan oleh dampak El Nino yang kuat pada saat itu, yang menyebabkan kekeringan dan gagal panen di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Timur.
Berdasarkan data historis, luas panen padi di Kalimantan Timur menunjukkan pola fluktuatif. Meskipun pernah mencapai puncak produksi, beberapa tahun terakhir menunjukkan penurunan. Faktor-faktor seperti perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan praktik pertanian yang kurang optimal dapat menjadi penyebab penurunan ini. Perlu adanya upaya strategis untuk meningkatkan produktivitas padi di Kalimantan Timur.
DI Yogyakarta
DI Yogyakarta berada di peringkat ke-19 secara nasional dengan luas panen padi 97.467,3 Hektar. Meskipun memiliki pertumbuhan negatif turun 7,78%, DI Yogyakarta tetap menjadi salah satu produsen padi yang signifikan di Pulau Jawa. Nilai ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, akan tetapi, dengan luas lahan yang terbatas, DI Yogyakarta mampu menjaga posisinya di tingkat nasional. Dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan, DI Yogyakarta menunjukkan penurunan yang signifikan.
(Baca: Rata-Rata Upah atau Gaji Bersih Sebulan Pekerja Formal Konstruksi Periode 2015-2025)
Sulawesi Barat
Sulawesi Barat menduduki peringkat ke-20 secara nasional dengan luas panen padi 64.187,41 Hektar. Dengan pertumbuhan positif sebesar 9,52%, daerah ini menunjukkan potensi peningkatan produksi padi yang cukup baik. Sulawesi Barat menduduki peringkat ke-4 di pulau Sulawesi dalam hal luas panen padi. Pertumbuhan ini menunjukkan adanya perbaikan dalam sektor pertanian padi di Sulawesi Barat, meskipun masih perlu upaya lebih lanjut untuk meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.
Jambi
Jambi menduduki peringkat ke-21 secara nasional dengan luas panen padi 64.119,24 Hektar. Jambi menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 4,71%, dan berada di urutan ke-6 di Pulau Sumatera dalam hal luas panen padi. Peningkatan ini menunjukkan potensi yang baik dalam sektor pertanian padi di Jambi. Dengan strategi yang tepat, Jambi dapat meningkatkan posisinya sebagai salah satu produsen padi utama di Sumatera.
Sulawesi Utara
Sulawesi Utara menempati peringkat ke-23 secara nasional dengan luas panen padi 58.875,23 Hektar. Dengan pertumbuhan positif sebesar 7,9%, Sulawesi Utara menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dalam produksi padi. Sulawesi Utara berada di urutan ke-5 di pulau Sulawesi. Pertumbuhan ini menunjukkan adanya upaya yang berhasil dalam meningkatkan sektor pertanian padi di Sulawesi Utara, meskipun masih ada ruang untuk perbaikan lebih lanjut.
Riau
Riau berada di peringkat ke-24 secara nasional dengan luas panen padi 57.003,35 Hektar. Riau memiliki pertumbuhan positif sebesar 9,8% dan berada di urutan ke-7 di Pulau Sumatera. Pertumbuhan ini menunjukkan adanya perbaikan dalam sektor pertanian padi di Riau, dan dengan strategi yang tepat, Riau dapat terus meningkatkan produktivitasnya. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa Riau masih memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi padi.
Bengkulu
Bengkulu menempati peringkat ke-25 secara nasional dengan luas panen padi 56.868,57 Hektar. Bengkulu memiliki pertumbuhan negatif turun 1,74%, dan berada di urutan ke-8 di Pulau Sumatera. Penurunan ini menunjukkan adanya tantangan dalam mempertahankan produksi padi di Bengkulu. Penurunan ini perlu menjadi perhatian utama, dan perlu adanya upaya untuk mengidentifikasi dan mengatasi faktor-faktor yang menyebabkan penurunan tersebut.