Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran per kapita sebulan untuk rokok dan tembakau di Kabupaten Fak Fak pada tahun 2024 mencapai 181607 rupiah. Nilai ini mengalami kenaikan sebesar 9,9 persen dibandingkan tahun 2023. Angka ini juga menjadi pengeluaran tertinggi untuk kategori rokok dan tembakau yang pernah tercatat di wilayah ini selama tujuh tahun terakhir periode 2018 sampai 2024.
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Kecantikan di Kab. Karo 2018 - 2024)
Nilai pengeluaran rokok dan tembakau ini setara dengan 60,5 persen dari pengeluaran untuk makanan jadi per kapita sebulan, bahkan melampaui pengeluaran bulanan untuk sabun mandi, perawatan, serta kebutuhan kecantikan masyarakat setempat. Secara total, pengeluaran rokok dan tembakau menyumbang 12 persen dari seluruh pengeluaran aneka barang dan jasa per kapita setiap bulan di Kabupaten Fak Fak.
Selama tujuh tahun terakhir, catatan pengeluaran rokok dan tembakau di wilayah ini mengalami pergerakan naik turun yang tajam. Pada tahun 2019 terjadi kenaikan 48 persen dari tahun sebelumnya, lalu turun sebesar 24,6 persen pada tahun 2020. Setelah tahun 2020, angka pengeluaran kembali naik secara konsisten kecuali sedikit penurunan sebesar 1,5 persen yang terjadi pada tahun 2021.
Berdasarkan data perbandingan seprovinsi Papua Barat, Kabupaten Fak Fak menempati urutan keempat dari tujuh kabupaten dan kota dalam hal besar pengeluaran rokok dan tembakau tahun 2024. Urutan di atasnya secara berurutan ditempati oleh Kabupaten Manokwari, Kabupaten Manokwari Selatan dan Kabupaten Teluk Bintuni. Secara nasional, wilayah ini berada di peringkat 43 dari seluruh kabupaten kota di seluruh Indonesia untuk kategori yang sama.
Dari seluruh kabupaten di Papua Barat, hanya empat wilayah yang mencatatkan pertumbuhan positif pengeluaran rokok dan tembakau pada tahun 2024. Selain Kabupaten Fak Fak yang tumbuh 9,9 persen, pertumbuhan positif juga terjadi di Kabupaten Manokwari sebesar 16,9 persen, Kabupaten Kaimana 13,3 persen dan Kabupaten Teluk Wondama 5 persen. Sisanya yaitu Kabupaten Manokwari Selatan, Teluk Bintuni dan Pegunungan Arfak mencatatkan penurunan nilai pengeluaran untuk kategori ini.
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan di Sulawesi Selatan 2015 - 2024)
Kabupaten Fak Fak
Untuk total pengeluaran per kapita gabungan makanan dan bukan makanan, Kabupaten Fak Fak menempati urutan kelima seprovinsi Papua Barat pada tahun 2024 dengan nilai total 1512437 rupiah per bulan. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 14,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara untuk pengeluaran kategori makanan saja, wilayah ini berada di urutan keempat seprovinsi dengan pertumbuhan sedikit naik sebesar 0,8 persen, menjadi salah satu pertumbuhan terendah dibandingkan wilayah lain di provinsi yang sama.
Kabupaten Manokwari
Kabupaten Manokwari konsisten menempati urutan pertama seprovinsi untuk hampir seluruh kategori pengeluaran masyarakat. Pada tahun 2024, wilayah ini mencatatkan total pengeluaran per kapita sebesar 1832890 rupiah per bulan, meskipun nilai ini mengalami penurunan 17 persen dari tahun sebelumnya. Khusus pengeluaran bukan makanan, Manokwari mencatatkan pertumbuhan naik sebesar 19,4 persen dan tetap menjadi yang tertinggi di seluruh Papua Barat.
Kabupaten Teluk Bintuni
Kabupaten Teluk Bintuni menempati urutan kedua seprovinsi untuk total pengeluaran masyarakat, dengan nilai 1832369 rupiah per kapita setiap bulan pada tahun 2024. Wilayah ini mencatatkan penurunan total pengeluaran sebesar 27,1 persen, namun justru mencatatkan pertumbuhan naik untuk kategori pengeluaran makanan sebesar 8,6 persen. Untuk kategori pengeluaran bukan makanan, pertumbuhan di wilayah ini bahkan mencapai 30,4 persen, menjadi pertumbuhan tertinggi kedua di provinsi ini.
Kabupaten Manokwari Selatan
Pada urutan ketiga seprovinsi Papua Barat terdapat Kabupaten Manokwari Selatan dengan total pengeluaran per kapita sebesar 1782389 rupiah per bulan tahun 2024. Wilayah ini mencatatkan penurunan total pengeluaran sebesar 13,4 persen, namun memiliki pertumbuhan pengeluaran bukan makanan sebesar 55,2 persen yang merupakan angka pertumbuhan tertinggi di seluruh provinsi. Untuk kategori pengeluaran makanan, wilayah ini berada di urutan kedua dengan pertumbuhan naik 17,7 persen.