Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran per kapita per bulan untuk perawatan kulit di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah pada tahun 2024 mencapai 72715 rupiah. Nilai ini mengalami penurunan sedikit sebesar 1,2 persen dibandingkan tahun 2023 yang mencatat angka 73588 rupiah per kapita per bulan. Sepanjang tujuh tahun terakhir data tercatat sejak 2018, angka pengeluaran ini pernah mencatat pengeluaran tertinggi pada tahun 2020 sebesar 319464 rupiah.
(Baca: PDRB ADHK Sektor Informasi dan Komunikasi di Maluku Utara | 2026)
Dari total pengeluaran masyarakat per kapita sebulan, alokasi untuk perawatan kulit menyumbang sekitar 4,6 persen dari total pengeluaran aneka barang dan jasa. Nilai ini jauh lebih rendah dibandingkan pengeluaran untuk rokok dan tembakau yang mencapai 89216 rupiah, serta pengeluaran sabun mandi yang tercatat 78780 rupiah per kapita per bulan. Sementara itu alokasi untuk kategori kecantikan secara keseluruhan hanya tercatat 7357 rupiah per penduduk setiap bulannya.
Sepanjang periode 2018 hingga 2024, angka pengeluaran perawatan kulit di wilayah ini menunjukkan fluktuasi yang sangat tajam. Setelah dimulai pada angka 45190 rupiah di tahun 2018, angka ini turun menjadi 34944 rupiah di tahun 2019, kemudian melonjak lebih dari 8 kali lipat pada tahun 2020. Setelah tahun 2020, angka pengeluaran langsung turun sebesar 80,9 persen pada tahun 2021, sebelum kemudian naik secara bertahap hingga tahun 2023.
Berdasarkan peringkat se-provinsi Papua Tengah, Kabupaten Intan Jaya menempati urutan keempat untuk besaran pengeluaran perawatan kulit tahun 2024. Tiga kabupaten yang mencatat angka lebih tinggi berturut-turut adalah Kabupaten Puncak Jaya dengan 136628 rupiah, Kabupaten Mimika 121808 rupiah, dan Kabupaten Nabire sebesar 82509 rupiah. Secara nasional, wilayah ini menempati peringkat 135 dari seluruh kabupaten kota di Indonesia, dan peringkat 27 untuk seluruh wilayah di pulau Papua.
Kabupaten Puncak Jaya
Kabupaten Puncak Jaya mencatat pengeluaran perawatan kulit tertinggi se-Provinsi Papua Tengah pada tahun 2024, meskipun mengalami penurunan sebesar 44,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Wilayah ini juga menempati peringkat pertama untuk total pengeluaran makanan maupun total pengeluaran per kapita keseluruhan, dengan angka pengeluaran mencapai 3275258 rupiah per kapita per bulan. Angka pengeluaran makanan di wilayah ini bahkan tumbuh sebesar 22 persen pada tahun 2024, menjadi nilai tertinggi dibandingkan seluruh kabupaten lain di provinsi ini.
(Baca: Statistik Persentase Desa yang Sebagian Besar Keluarga Menggunakan Minyak Tanah untuk Memasak Periode 2014-2025)
Kabupaten Mimika
Pada posisi kedua provinsi untuk pengeluaran perawatan kulit, Kabupaten Mimika mencatat angka 121808 rupiah pada tahun 2024 dengan penurunan sebesar 12,8 persen dari tahun sebelumnya. Wilayah ini menempati urutan kedua untuk total pengeluaran masyarakat secara keseluruhan, meskipun mengalami penurunan total pengeluaran sebesar 8,4 persen. Sementara untuk pengeluaran makanan, wilayah ini hanya tumbuh sedikit sebesar 1,7 persen dan menempati urutan ketiga secara provinsi.
Kabupaten Nabire
Kabupaten Nabire menjadi satu-satunya wilayah tiga besar yang mencatat kenaikan pengeluaran perawatan kulit pada tahun 2024, dengan pertumbuhan sebesar 0,9 persen menjadi 82509 rupiah. Wilayah ini menempati urutan ketiga untuk total pengeluaran masyarakat secara keseluruhan, dengan pertumbuhan total pengeluaran sebesar 5,2 persen. Untuk pengeluaran bukan makanan, Nabire bahkan mencatat pertumbuhan sebesar 9,1 persen, menjadi satu-satunya wilayah di urutan atas yang mencatat pertumbuhan positif untuk kategori ini.
Kabupaten Dogiyai
Berada di urutan kelima setelah Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Dogiyai mencatat pengeluaran perawatan kulit sebesar 51913 rupiah pada tahun 2024 dengan pertumbuhan sebesar 14,6 persen. Wilayah ini mencatat pertumbuhan total pengeluaran masyarakat sebesar 16,5 persen, menjadi pertumbuhan tertinggi secara provinsi pada tahun 2024. Sementara untuk pengeluaran bukan makanan, Dogiyai juga mencatat lonjakan sebesar 30,3 persen, jauh di atas rata-rata pertumbuhan wilayah lain di Papua Tengah.