Emiten Grup Djarum, PT Global Digital Niaga Tbk atau Blibli, mencetak rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,28 triliun pada 2025.
Kerugiannya menyusut sekitar 10% dibanding 2024 (year-on-year/yoy), yang ruginya ketika itu mencapai Rp2,53 triliun.
Penyusutan kerugian emiten berkode BELI ini ditopang pendapatannya yang tumbuh 33,77% (yoy) menjadi Rp22,36 triliun pada 2025.
Pertumbuhan pendapatan terjadi pada seluruh lini bisnis Blibli. Pada 2025, hasil penjualan institusi mereka melonjak 60,77% (yoy) menjadi Rp9,03 triliun
Lalu pendapatan dari ritel online naik 18,49% (yoy) menjadi Rp8,67 triliun dan toko fisik melesat 34,79% (yoy) menjadi Rp7,59 triliun.
CEO dan Co-Founder Blibli, Kusumo Martanto, menyatakan kinerja positif perseroan didorong oleh omnichannel yang terintegrasi, salah satunya melalui peluncuran Keanggotaan Terpadu dan Blibli Tiket Rewards yang menghubungkan Blibli, Tiket.com, Ranch Market, dan Dekoruma dalam satu ekosistem.
"Kami percaya bahwa model omnichannel terintegrasi kami—yang menjangkau konsumen secara daring, di toko, dan melalui perjalanan hybrid—sangat cocok untuk menavigasi lanskap ini serta menangkap nilai seiring berkembangnya pasar," kata Kusumo dalam siaran pers, Senin (30/3/2026).
Selain itu, Blibli juga memperluas jaringan toko elektronik konsumen dan rumah tangga menjadi 269 lokasi pada 2025, meningkat dibanding 204 lokasi pada 2024.
Sampai akhir 2025, BELI memiliki aset senilai Rp17,8 triliun, tumbuh 10,13% (yoy).
(Baca: Nilai Transaksi Produk FMCG di E-Commerce Indonesia Meningkat sampai 2025)